That Crucified “Body”…

Halo semua!

Berikut ini bahan yang saya bawakan pada saat seminar “Mengapa Yesus (Tidak) Disalibkan?” Tentu saja tidak langsung berkaitan dengan tema blog ini yang memusatkan perhatian pada Teologi Tubuh yang diajarkan Yohanes Paulus II. Meskipun demikian, seperti akan terlihat, ajaran Teologi Tubuh terasa gemanya dalam pendekatan terhadap persoalan yang sedang dibahas. Bahan tersebut juga mengandaikan adanya pemahamam umum tentang sejarah terbentuknya kanon Kitab Suci Perjanjian Baru. Hal ini sudah saya bahas dalam buku saya Menguak Injil-Injil Rahasia (Kanisius, 2007). Selamat membaca!

Deshi Ramadhani, SJ

====

Mengapa Yesus (Tidak) Disalibkan?

Sebuah Awal Penelitian

Aula Gereja St. Yakobus, Kelapa Gading, Jakarta, 16 November 2008

Deshi Ramadhani, SJ

STF Driyarkara, Jakarta

Pengantar: merumuskan pertanyaan

Dalam liturgi Gereja Katolik Roma, bulan November dikhususkan sebagai bulan untuk menghormati para arwah. Selama bulan ini kita secara khusus mengenang dan mendoakan mereka. Dalam rumusan Doa Syukur Agung II kita memiliki rumusan doa untuk arwah sebagai berikut: “…Ia telah menjadi serupa dengan Dia dalam kematian; semoga kini ia menjadi serupa pula dengan Dia dalam kebangkitan.” Kita mengenang mereka yang sudah meninggal dalam iman kita bahwa mereka telah “menjadi serupa” dengan Kristus dalam kematian. Terpisah dari kematian Kristus sendiri, kita tidak memiliki dasar yang kokoh untuk bisa memahami kematian orang-orang yang kita kasihi itu, dan tentu saja kematian kita bila saatnya tiba. Kematian Kristus tak terpisahkan dari kebangkitan-Nya. Demikian pula, kematian kita tak bisa dilepaskan dari kebangkitan kita bersama Kristus.

Berdasarkan tulisan-tulisan dalam Kitab Suci Perjanjian Baru, kita mengetahui bahwa Yesus mengalami kematian dengan cara yang sangat mengenaskan: digantung pada kayu salib. Masing-masing Injil menyajikan kisah penyaliban dan kematian Yesus menurut sudut pandang yang khas. Pandangan dan ajaran Paulus tentang penyaliban Yesus pun juga memiliki kekhasan tersendiri. Dalam tulisan-tulisan tersebut tidak ada keraguan sedikit pun bahwa Yesus sungguh telah disalibkan dan wafat pada saat Ia masih tergantung pada kayu salib. Pertanyaannya adalah: “Mengapa Yesus disalibkan?”

Keempat Injil sudah selesai ditulis pada akhir abad pertama Masehi. Beberapa tulisan yang muncul sejak abad ke-2 menyajikan kisah yang berbeda. Salah satu perbedaan besar terletak pada kisah-kisah tentang penyaliban. Dengan beberapa variasi, tulisan-tulisan tersebut mengisahkan bahwa Yesus tidak sungguh-sungguh disalibkan. Orang yang tergantung dan mati pada kayu salib bukanlah Yesus, melainkan orang lain. Maka, pertanyaannya adalah: “Mengapa Yesus tidak disalibkan?”

Dua pertanyaan itulah yang ingin kita soroti bersama. Untuk tahap awal ini kita ingin mendekatinya terutama dari sudut kronologi sejarah munculnya kisah-kisah semacam itu. Latar belakang munculnya kisah-kisah tersebut akan bisa memberi terang bagi pemahaman kita terhadap penyaliban. Bila ingin dirumuskan kembali secara lengkap, judul bahan yang kita bicarakan ini adalah: “Mengapa muncul kisah-kisah tentang Yesus yang disalibkan dan kisah-kisah tentang Yesus yang tidak disalibkan?”

Bahan yang ditawarkan di sini adalah bagian dari tahap awal sebuah penelitian. Dalam arti tertentu, bahan ini adalah lanjutan atau pendalaman lebih jauh atas salah satu pokok yang sudah diangkat dalam buku saya, Menguak Injil-Injil Rahasia.[1] Banyak hal yang akan dikatakan di sini mengandaikan bahan-bahan yang sudah tersaji dalam buku tersebut. Selain itu, perlu juga ditekankan di sini, bahwa pembicaraan kita di sini tidak dimaksudkan sebagai sebuah studi perbandingan tradisi-trasidi agama-agama yang berbeda. Kita ingin menjadikan pembicaraan kita di sini sebagai sebuah studi bersama atas sejarah Kekristenan pada abad-abad pertama pertumbuhannya.

Kitab Suci Perjanjian Baru: Yesus disalibkan

Injil mengsisahkan bahwa Yesus sendiri secara sadar berbicara tentang penderitaan dan kematian-Nya. Meskipun pemberitahuan ini dilakukan beberapa, para murid tidak begitu saja memahaminya. Setelah pengakuan Petrus bahwa Yesus adalah Mesias (Mrk 8:29), Yesus segera berbicara tentang penderitaan dan kematian-Nya: “Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan bangkit sesudah tiga hari” (Mrk 8:31). Dalam kesempatan kedua Yesus berkata: “Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia, dan mereka akan membunuh Dia, dan tiga hari sesudah Ia dibunuh Ia akan bangkit” (Mrk 9:31). Pemberitahuan ketiga memuat informasi yang lebih rinci: “Sekarang kita pergi ke Yerusalem dan Anak Manusia akan diserahkan kepada imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, dan mereka akan menjatuhi Dia hukuman mati. Dan mereka akan menyerahkan Dia kepada bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, dan Ia akan diolok-olokkan, diludahi, disesah dan dibunuh, dan sesudah tiga hari Ia akan bangkit” (Mrk 10:33-34).

Injil Matius pada umumnya mengikuti Injil Markus. Meskipun demikian, pada pemberitahuan yang ketiga secara lebih tegas dikatakan bahwa Yesus sadar bahwa Ia akan “diolok-olokkan, disesah dan disalibkan” (Mat 20:19). Sementara itu, Injil Lukas mengikuti pula Injil Markus, seraya terus-menerus memberi gambaran jelas bahwa Yesus dengan sadar “berjalan menuju Yerusalem.” Ketika Yesus diperingatkan akan bahaya kematian itu, Ia justru berkata: “Tetapi hari ini dan besok dan lusa Aku harus meneruskan perjalanan-Ku, sebab tidaklah semestinya seorang nabi dibunuh kalau tidak di Yerusalem” (Luk 13:33).

Kelak setelah kebangkitan, kedua murid yang berjalan menuju Emaus merangkum hidup Yesus dengan mengatakan demikian:

Apa yang terjadi dengan Yesus orang Nazaret. Dia adalah seorang nabi, yang berkuasa dalam pekerjaan dan perkataan di hadapan Allah dan di depan seluruh bangsa kami. Tetapi imam-imam kepala dan pemimpin-pemimpin kami telah menyerahkan Dia untuk dihukum mati dan mereka telah menyalibkan-Nya. Padalah kami dahulu mengharapkan, bahwa Dialah yang datang untuk membebaskan bangsa Israel. Tetapi sementara itu telah lewat tiga hari, sejak semuanya itu terjadi. Tetapi beberapa perempuan dari kalangan kami telah mengejutkan kami: Pagi-pagi buta mereka telah pergi ke kubur, dan tidak menemukan mayat-Nya. Lalu mereka datang dengan berita, bahwa telah kelihatan kepada mereka malaikat-malaikat, yang mengatakan, bahwa Ia hidup. Dan beberapa teman kami telah pergi ke kubur itu dan mendapati, bahwa memang benar yang dikatakan perempuan-perempuan itu, tetapi Dia tidak mereka lihat (Luk 24:19-24).

Jawaban Yesus kepada mereka pun sangat tegas: “Hai kamu orang bodoh,…Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya?” (Luk 24:25-26). Ini menggemakan seluruh isi pemberitahuan tentang penderitaan dan kematian Yesus: Anak Manusia akan mati dibunuh, seorang nabi besar akan mati di kayu salib. Artinya, seorang pembebas yang dinanti-nantikan akan mati konyol tergantung pada kayu salib, tetapi justru dengan itulah ia melaksanakan tugasnya.

Keyakinan dan ajaran Paulus pun memperlihatkan keyakinan yang sama. Ia “memberitakan Kristus yang disalibkan” (1Kor 1:23). Bagi Paulus, inilah hal yang penting yang tidak boleh luput dari keyakinan orang yang percaya: “Sebab aku telah memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa di antara kamu selain Yesus Kristus, yaitu Dia yang disalibkan” (1Kor 2:4).

Keempat Injil mengisahkan peristiwa yang menghebohkan di Bait Allah ketika Yesus masuk dan membersihkannya dari segala macam hal yang telah mengotori tempat suci itu. Meskipun demikian dalam Injil Yohanes kita memiliki informasi penting tentang percakapan antara Yesus dan orang-orang yang hadir di sana. Ketika ditanya tentang tanda yang bisa membenarkan tindakan-Nya itu, Yesus menjawab: “Rombak Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali” (Yoh 2:19). Mereka tidak mengerti arti pernyataan itu. Penginjil kemudian secara jelas memberi catatan: “Tetapi yang dimaksudkan-Nya dengan Bait Allah ialah tubuh-Nya sendiri” (Yoh 2:21).

Dari sini terlihat bahwa “Yesus yang disalibkan” secara lebih eksplisit berarti “tubuh Yesus yang disalibkan.” Tubuh yang disalibkan itu kemudian juga dibangkitkan pada hari yang ketiga. Perhatian eksplisit pada tubuh Yesus yang tersalib itu ditekankan dalam ayat berikut ini: “Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh” (1Ptr 2:24).

Maka, kita bisa juga bisa mengatakan pernyataan “Anak Manusia atau nabi besar yang disalibkan” secara lain sebagai “tubuh Anak Manusia atau tubuh nabi besar yang disalibkan.” Artinya, bila kebangkitan tak bisa dipisahkan dari kematian, dan bila kematian tak terpisahkan dari salib, lebih tegas lagi, salib tak bisa dilepaskan dari tubuh manusia yang mati tergantung pada salib itu.

Ini bisa terlihat secara lebih jelas lagi bila dibandingkan dengan kisah tentang perempuan yang meminyaki Yesus. Penjelasan Yesus secara jelas menghubungkan tindakan itu dengan tubuh-Nya sendiri: “Tubuh-Ku telah diminyakinya sebagai persiapan untuk penguburan-Ku” (Mrk 14:9). Lebih tegas lagi Yesus melanjutkan: “Sesungguhnya di mana saja Injil diberitakan di seluruh dunia, apa yang dilakukannya ini akan disebut juga untuk mengingat dia” (Mrk 14:20).

Sekali lagi, pengakuan akan Yesus yang sungguh disalibkan senantiasa berarti pengkuan akan Yesus yang sebagai manusia sungguh-sungguh memiliki tubuh manusia sebagaimana halnya kita semua.

Penolakan terhadap kebertubuhan Yesus

Perjalanan Kekristenan sejak abad ke-2 Masehi diwarnai oleh perjumpaan dengan Gnostisisme. Aliran atau paham ini tidaklah merupakan satu hal tunggal yang seragam di mana-mana. Dalam Menguak Injil-Injil Rahasia saya mengikuti pandangan umum para ahli tentang Gnostisisme, dan merangkumnya demikian:

Gnostisisme mengajarkan bahwa dunia material adalah produk dari kekuatan-kekuatan jahat. Jiwa adalah percikan-percikan ilahi yang kemudian terpenjara dalam dunia material. Karena terpenjara dalam dunia material inilah manusia akhirnya menjadi budak-budak dari daya-daya kosmik yang sangat berkuasa. Manusia tunduk pada penguasa-penguasa alam (archon). Pembebasan terjadi kalau percikan ilahi dalam diri manusia itu membebaskan diri dari penjara dunia material.[2]

Dunia material yang menjadi penjara bagi percikan ilahi itu tidak lain adalah tubuh manusia. Tegasnya, dalam Gnostisisme tubuh manusia dipahami sebagai sebuah kenyataan yang harus dilawan karena di sanalah terlihat paling jelas bentuk ungkapan dari kekuatan jahat. Konsekuensinya, Gnostisisme harus bisa menemukan jalan untuk menjelaskan tentang hidup Yesus yang bertubuh. Dengan kata lain, mereka yang mengikuti paham ini harus berhadapan dengan pertanyaan besar: “Jika tubuh adalah kekuatan jahat, bagaimana orang harus memahami tubuh Yesus?”

Karena dunia material dianggap jahat, Pencipta dunia material pun dianggap jahat. Atau, setidaknya, Allah Pencipta sebagaimana dikisahkan dalam Kitab Kejadian adalah Allah yang tingkatannya lebih rendah. Maka secara lebih luas Gnostisisme memandang Allah dalam Perjanjian Lama sebagai Allah yang jahat. Akibatnya, Yesus dalam Perjanjian Baru dipandang sebagai yang berbalikan dengan itu. Yesus Kristus adalah Allah yang baik, yang tingkatannya lebih tinggi daripada Allah dalam Perjanjian Lama.

Salah satu tokoh yang berpengaruh dalam Gnostisisme adalah Valentinus.[3] Ia mengakui bahwa Yesus adalah Sang Penebus. Baginya, Yesus adalah ilahi. Artinya, Yesus adalah Allah yang baik yang menampakkan diri kepada manusia dengan maksud agar Ia bisa menuntun manusia kembali ke yang ilahi. Persoalan besar lalu muncul pada titik ini. Jika Yesus itu adalah Allah yang baik, Ia tidak akan bercampur dengan dunia material yang jahat. Konsekuensinya, Allah yang baik itu tidak akan pernah membiarkan Diri-Nya terpenjara dalam tubuh manusia, karena tubuh manusia itu adalah kekuatan jahat. Mengakui bahwa Allah mengambil bentuk dalam tubuh manusia berarti mengakui bahwa kekuatan kebaikan Allah itu dikurung oleh kekuatan jahat dunia material. Bila ini diikuti, Valentinus harus bisa menjelaskan secara lebih tegas, karena ia pun tahu bahwa kisah-kisah dalam Injil yang sudah beredar ketika itu mengatakan bahwa Yesus itu sungguh terlihat secara ragawi. Maka Valentinus harus menjelaskan arti dari Yesus yang terlihat hadir dengan tubuh manusiawi di hadapan orang banyak yang mengenal-Nya.

Valentinus mengatakan bahwa orang-orang itu belum memiliki pengetahuan istimewa (gnosis) yang memberi pencerahan. Mereka yang merasa telah sungguh melihat Yesus hadir secara ragawi sebenarnya telah mengalami “tipuan pandangan” (optical illusion).[4] Karena tipuan pandangan semacam itulah mereka merasa sungguh melihat Yesus secara nyata hadir sebagai manusia yang bertubuh. Valentinus menegaskan bahwa tubuh Yesus sebenarnya hanyalah sebuah “tampilan” atau “tampakan” (appearance atau apparition). Ajaran ini kemudian dikenal sebagai “doketisme.”

Tokoh lain yang sangat berpengaruh muncul pada abad ke-3. Ia bernama Mani. Karena namanya itulah ajarannya dikenal sebagai Manikeisme. Dualisme dalam ajaran Mani lebih radikal. Baginya, ada dua Allah yang sama kuat. Yang satu adalah Allah terang, yang lain adalah Allah kegelapan. Mereka saling berperang. Allah terang menciptakan dunia spiritual, sedangkan Allah gelap menciptakan dunia material. Dalam peperangan itu dunia spiritual senantiasa menjadi incaran dari dunia material yang akan melahapnya. Proses pembebasan tidak lain adalah pembebasan dunia spiritual dari dunia material yang jahat. Untuk melakaukan pembebasan itu Allah terang terus-menerus mengirim utusannya.

Manikeisme memandang segala hal yang berkaitan dengan dunia material sebagai hal yang sangat jahat. Ajaran ini tidak lagi memandang adanya percikan ilahi dalam tubuh manusia (sebagaimana halnya dalam Gnostisisme), melainkan memandang tubuh sebagau sungguh jahat. Para pengikut aliran ini bahkan dilarang untuk melakukan persetubuhan, karena itu berarti bersatunya tubuh yang pada dasarnya jahat. Mereka bahkan dilarang untuk bisa menikmati makan dan minum, karena sekali lagi, itu semua berkaitan dengan pemuasan tubuh yang pada dasarnya sungguh jahat. Manikeisme mengajarkan sebuah pembebasan total dari segala dunia material selama hidup di dunia.

Konsekuensinya bagi pemahaman akan Yesus sangatlah jelas: Yesus Kristus tidak sungguh memiliki tubuh. Tidak mungkin Yesus sungguh memiliki tubuh, karena Ia tidak mungkin dipenjara dalam dunia material yang jahat. Dengan kata lain, meskipun Manikeisme bergerak dalam arah yang lebih radikal daripada Gnostisisme, ketika mereka harus berhadapan dengan kenyataan Yesus yang hidup sebagai manusia, mereka sepakat: Yesus tidak sungguh bertubuh. Dengan sudut pandang semacam ini juga menjadi jelas bahwa bagi aliran-aliran ini tidaklah mungkin berbicara tentang penyaliban tubuh sebagai satu hal yang baik.

Tulisan-tulisan non-kanonik: Yesus tidak disalibkan

Menurut The Second Treatise of the Great Seth, Yesus sendiri bercerita tentang peristiwa penyaliban itu:

[…] Tetapi aku sama sekali tidak didera. Mereka yang hadir di sana menghukum Aku. Dan Aku dalam kenyataannya tidaklah mati, melainkan dalam tampakan, supaya Aku tidak mereka permalukan karena mereka adalah kaum-Ku sendiri. Aku menyingkirkan malu dari Diri-Ku dan Aku tidak berkecil hati berhadapan dengan apa yang terjadi pada-Ku di tangan mereka. Aku hampir menyerah pada rasa takut, dan Aku [menderita] menurut penglihatan dan pemikiran mereka, agar mereka tidak pernah menemukan satu kata pun untuk berbicara tentang mereka. Karena kematian-Ku yang mereka kira telah terjadi, sesungguhnya telah terjadi bagi mereka dalam kekeliruan dan kebutaan, karena mereka telah memakukan orang mereka sendiri ke kematian mereka. Karena Ennoias mereka tidak melihat Aku, karena mereka tuli dan buta. Tetapi dalam melakukan hal-hal ini, mereka menghukum diri mereka sendiri. Ya, mereka melihat Aku; mereka menghukum Aku. Itu adalah orang lain, ayah mereka sendirilah yang telah minum anggur asam, bukan Aku. Mereka memukul Aku dengan sebuah tongkat; itu adalah orang lain, Simon, yang memikul salib-Ku pada bahu-nya. Orang lainlah yang mereka kira sebagai Diriku dan ke atas kepalanya mereka meletakkan mahkota duri. Tetapi aku bersuka cita dalam ketinggian melampaui segala kekayaan pada archon dan keturunan kesalahan mereka, kemuliaan kosong mereka. Dan Aku menertawakan ketidak tahuan mereka […] Karena Aku mengubah bentuk Diriku, dari satu wujud ke wujud lain […].

Di sini jelas terlihat pengaruh paham Gnostisisme dalam bentuk yang lebih khusus sebagai Doketisme. Yesus tidak sungguh hadir dengan tubuh-Nya, karen pada dasarnya Yesus memang tidak pernah sungguh-sungguh memiliki tubuh manusia seperti manusia-manusia lain. Karena itulah ia bisa mengubah “tampilan” atau “tampakan” Diri-Nya sesuka hati. Tidak ada orang yang tahu, karena tidak ada yang telah mendapat pengetahuan rahasia (gnosis).

Ireneus, seorang Bapa Gereja yang dengan gencar berjuang melawan berbagai kesesatan dalam Gereja memberi penjelasan tentang ajaran Gnostik menurut Basilides. Demikian dikisahkan oleh Ireneus (catatan 24.4):

24.4 […] Ia tampak di dunia sebagai seorang manusia kepada para pengikut archon dan membuat mukjizat-mukjizat. Konsekuensinya, Ia tidaklah menderita, tetapi seorang Simon dari Kirene telah ditempatkan untuk melayani dan memikul salibnya untuk Dia, dan dialah yang disalibkan karena ketidak tahuan dan kekeliruan, yang telah diubah bentuknya oleh Dia agar ia dianggap Yesus. Sedangkan Yesus sendiri, Ia mengambil bentuk tampakan Simon dan berdiri di dekat untuk menertawakan para archon. Karena Dia adalah kuasa tak bertubuh dan pikiran dari Bapa yang tak dilahirkan, Dia mengubah bentuk diri-Nya sekehendak-Nya, dan dengan cara inilah Ia naik kepada Dia yang telah mengutus-Nya, sambil menertawakan mereka karena Dia tidak bisa ditahan dan tak terlihat bagi semua. Mereka yang telah mengetahui ini telah dibebaskan dari para archon pembuat dunia. Orang harus tidak mengakui seseorang yang disalibkan, tetapi seseorang yang datang dalam bentuk insani, tampak disalibkan, disebut sebagai Yesus, dan diutus oleh Bapa untuk menghancurkan karya-karya para pembuat dunia dengan rencana ini. Jika seseorang mengakui Sang Tersalib, katanya, ia masih seorang budak dan di bawah kekuasaan dari mereka yang telah menjadikan tubuh-tubuh; tetapi ia yang menyangkalnya dibebaskan dari mereka dan mengetahui rencana dari Bapa yang tidak dilahirkan.

24.5: Keselamatan hanyalah untuk jiwa; tubuh menurut kodratnya dapat binasa. […]

Bagian terakhir menurut catatan Ireneus ini penting untuk kita perhatikan. Ada dua hal. Pertama, mereka yang mengakui bahwa Yesus sungguh telah disalibkan adalah orang-orang yang mesih berasa dalam kekuasaan kekuatan jahat dunia material. Kedua, dalam keselamatan atau proses penyelamatan, yang terlibat hanyalah jiwa, sedangkan tubuh tidak diikutsertakan, karena memang sudah ditetapkan untuk binasa sebagaimana halnya berlaku bagi setiap kekuatan jahat dunia material.

Simon dari Kirene, yang dalam Injil dikisahkan sebagai orang yang membantu memikul salib Yesus ternyata justru bernasib buruk. Tanpa diduga-duga ia sendirilah yang akhirnya disalibkan, sementara orang yang menyalibkannya tetap merasa yakin bahwa yang ia adalah Yesus. Hal serupa juga dikisahkan dalam variasi kisah serupa. Salah satu kecenderungan yang muncul dalam variasi tersebut adalah menghadirkan tokoh Yudas sebagai orang yang disalibkan.

Demikianlah secara singkat kita bisa melihat adanya variasi dalam tulisan-tulisan non-kanonik. Siapa sebenarnya yang disalibkan? Simon atau Yudas? Jika ada inkonsistensi dalam tulisan-tulisan tersebut, satu hal yang sama adalah bahwa siapa pun orangnya, orang itu memainkan peran untuk menggantikan Yesus. Secara positif bisa dilihat, bahwa tulisan ini ingin membela Yesus sebagai Allah yang baik. Dengan kata lain, untuk membela keilahian Yesus, kisah-kisah ini tidak “mengijinkan” Yesus terkurung dalam tubuh yang adalah bentuk paling nyata dari dunia material yang jahat. Artinya, demi keilahian Yesus, tulisan-tulisan ini lebih memilih untuk “mengorbankan” kemanusiaan Yesus. Menurut tulisan-tulisan ini, Yesus bukanlah sungguh manusia.

“Inilah Tubuh-Ku”

Menurut tulisan-tulisan non-kanonik, tubuh adalah jahat. Tubuh adalah bentuk paling nyata dari dunia material yang jahat. Lebih radikal lagi, menurut Manikeisme, segala hal yang berkaitan dengan tubuh adalah jahat. Satu hal yang tidak begitu diperhatikan (atau bahkan dilalaikan sama sekali) adalah kenyataan bahwa peristiwa penyaliban Yesus bukanlah sebuah peristiwa yang berdiri sendiri. Dalam Kitab Suci seluruh kisah sengsara Yesus hingga wafat-Nya pada kayu salib dibuka dengan sebuah kisah tentang perjamuan terakhir.

Sebuah peristiwa penting terjadi ketika Yesus berkata: “Ambillah, inilah tubuh-Ku” (Mrk 14:22). Paulus mengisahkannya dengan penjelasan tambahan: “Inilah tubuh-Ku, yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku!” (1Kor 11:24). Injil Yohanes tidak mengisahkan ini. Dalam perjamuan terakhir menurut Yohanes dikisahkan sebuah peristiwa penting yang berbeda, yakni pembasuhan kaki. Para ahli umumnya berpendapat bahwa kisah tentang “ekaristi” disajikan secara berbeda oleh Yohanes di dalam bab 6. Dalam kotbah Yesus tentang roti hidup itulah kita mendengar secara jelas gema perjamuan terakhir. Yesus berkata:

Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu adalah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia… Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman. Sebab daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia (Yoh 6:51, 54-55).

Dalam hubungan erat dengan perjamuan terakhir, saat Yesus disesah, dan terlebih lagi saat Ia wafat tergantung pada kayu salib, adalah saat di mana Yesus mengatakan secara lebih jelas, dengan seluruh kenyataan tubuh-Nya: “Inilah tubuh-Ku.” Segi inilah yang terlewatkan dalam tulisan-tulisan non-kanonik. Bila melihat kecenderungan dalam tulisan-tulisan itu untuk memandang tubuh sebagai yang jahat, ucapan Yesus “Inilah tubuh-Ku” semakin tidak bisa diterima. Allah yang baik tidak akan mungkin memberikan tubuh, karena tubuh itu adalah jahat. Bagaimana mungkin sesuatu yang jahat diberikan oleh Allah yang baik dengan maksud untuk menyelamatkan manusia?

Penyaliban Yesus?

Demikianlah telah kita lihat, bahwa pertanyaan kita, “Mengapa Yesus (Tidak) Disalibkan?” mendesak kita untuk terlebih dahulu memilih apakah kita menerima Yesus sebagai yang sungguh bertubuh atau tidak. Dengan kata lain, pilihan ini adalah pilihan menentukan antara keutuhan kemanusiaan di satu pihak, dan keilahian Yesus di lain pihak. Tulisan non-kanonik tidak mengisahkan Yesus yang disalibkan, karena ingin mempertahankan keilahian Yesus. Sementara itu Kitab Suci mengisahkan Yesus yang disalibkan, karena ingin memperlihatkan Yesus dalam keutuhan kemanusiaan-Nya karena hanya dengan itulah Ia bisa membawa serta seluruh manusia yang ingin diselamatkan-Nya. Lebih jauh lagi, mengakui Yesus dalam keutuhan kemanusiaan-Nya berarti mengakui kebenaran bahasa ekaristik dalam penyaliban Yesus. Tanpa perjamuan terakhir penyaliban Yesus sungguh tak akan bisa dipahami.

9 November 2008


[1] Deshi Ramadhani, Menguak Injil-Injil Rahasia (Yogyakarta: Kanisius, 2007).

[2] Ramadhani, Menguak Injil-Injil Rahasia, hlm. 36-37.

[3] Untuk penjelasan yang lebih panjang tentang tokoh ini dan para pengikutnya, lih. Ramadhani, Menguak Injil-Injil Rahasia, hlm. 43-46.

[4] Richard M. Hogan, Dissents from the Creed: Heresies Past and Present (Huntington, Indiana: Our Sunday Visitor, 2001), hlm. 44.

The Thrill of the Chaste

Hi all.

I’m reading Dawn Eden’s book “The Thrill of the Chaste: Finding Fulfillment while Keeping Your Clothes On” (Nashville, Tennessee: Thomas Nelson, 2006). As you expect, the title tells it all. I highly recommend this book especially if you are one among many who are confused by sex. Eden offers a female perspective through first-hand experiences of failures. She balances what Christopher West has been able to offer from his male perspective. Both are inspired by John Paul II’s “theological time-bomb” called “The Theology of the Body.” You may be off-track if you don’t join many in this true sexual counter-revolution. May this and other books alike convince you that there is hope for a real body redemption here as you live on earth.

WIth my priestly benediction,

Deshi Ramadhani, SJ

New Heart

Ini bahan sesi-ku waktu retret “Destination Confirmed” 25-26 Oktober 2008 di Villa Lodi Puncak. Happy reading!

Deshi Ramadhani, SJ

Heart of Flesh

Kita sudah melihat bahwa tubuh itu tak terpisahkan dari Tuhan sendiri. Setelah dosa muncul, ketelanjangan menjadi sumber ketakutan dan rasa malu. Ini tidak hanya berkaitan dengan tubuh manusia itu sendiri, laki-laki dan perempuan, melainkan dengan cara masing-masing memandang atau melihat yang lain. Sejak adanya dosa, laki-laki dan perempuan diputuskan hubungannya dengan arti dasar tubuh mereka. Sejak adanya dosa, laki-laki dan perempuan diputuskan dari hubungan dasariah antara tubuh laki-laki dan tubuh perempuan mereka yang secara mendalam membawa tanda penunjuk jelas akan Allah sendiri. Dengan adanya dosa, tubuh mereka kehilangan arti mendasar sebagai tubuh yang menjadi ungkapan untuk pemberian diri yang total kepada yang lain. Dengan adanya dosa, tubuh mereka kehilangan kemampuan untuk secara polos dengan segala kekaguman dan hormat melihat tubuh yang lain. Dengan kata lain, dosa membuat mereka tidak lagi bisa saling memandang sebagai dua subjek, melainkan saling memandang sebagai objek.

Dari cara memandang seperti ini tentu saja akan terpancar sebuah ancaman. Selanjutnya, manusia yang telanjang sendiri pun mulai merasa bahwa sejak saat itu ketelanjangannya akan selalu dipandang sebagai objek. Lebih parah lagi, ini pun merusak hubungan mereka dengan Allah Pencipta sendiri. Bagi laki-laki dan perempuan di dalam taman sesudah dosa itu, cara Allah memandang pun sudah segera dicurigai sebagai cara memandang yang sama dengan setiap manusia lain. Karena itulah laki-laki dan perempuan menyembunyikan diri dari Allah Pencipta sendiri.

Dengan adanya dosa, hilang pula cara memandang yang ada pada awal mula, ketika masing-masing bisa melihat tubuh sebagai ungkapan terlihat yang terpisahkan bagi pribadi (persona). Tubuh tidak lagi dipandang sebagai ungkapan terlihat akan hasrat laki-laki untuk bersatu dalam kesatuan antarpribadi yang saling memberi diri secara total, communion personarum. Tubuh dipandang sebagai ungkapan terlihat akan hasrat laki-laki dan perempuan yang siap dengan tubuhnya menggunakan tubuh laki-laki dan perempuan lain, bukan sebagai ungkapan pemberian diri yang total, melainkan sebagai ungkapan pencarian kepuasan diri. Dari sinilah terlihat jelas, bahwa dosa merusak secara mendasar kemampuan manusia yang bertubuh untuk memandang tubuh yang lain seperti pada saat tubuh laki-laki dan tubuh perempuan itu diciptakan.

Maka tidak mengherankan dalam kotbah di bukit Yesus secara tegas mengatakan: “Kamu telah mendengar firman: ‘Jangan berzinah.’ Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya” (Mat 5:27-28). Dari sudut pandang semacam ini terlihat bahwa Yesus ingin meningatkan kita pada sebuah kenyataan yang sangat dekat pada diri kita. Dosa yang dilakukan oleh laki-laki dan perempuan pertama membuat mereka tidak lagi memandang yang lain dengan keinginan untuk “memberikan diri secara total” melainkan dengan keinginan untuk “memanfaatkan yang lain demi diri sendiri.” Laki-laki dan perempuan pertama itu, karena dosa, mulai memandang yang lain dengan cara yang di mata Yesus adalah sama dengan “berzinah dalam hati.” Maka, dari sana juga jelas, bahwa cara memandang yang sudah rusak itu adalah ungkapan paling jelas dari hati manusia yang sudah rusak. Pembebasan tubuh harus dimulai dengan pembebasan hati. Bila hati tidak dikembalikan ke keadaan seperti semula, tubuh pun tetap akan kehilangan arti dasar sebagai pemberian diri total.

Kenajisan Israel: simbolisasi “perempuan”

Dalam tradisi para nabi, seruan untuk hidup sesuai dengan kehendak Allah dipertegas dengan menekankan pentingnya perubahan hati, ketaatan batin, dan kesetiaan yang total untuk selalu hidup benar di hadapan Allah. Hal ini bisa dilihat dalam Yeh 36:25-27 berikut ini:

36:25 Aku akan mencurahkan kepadamu air jernih, yang akan mentahirkan kamu; dari segala kenajisanmu dan dari semua berhala-berhalamu Aku akan mentahirkan kamu. 26 Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat. 27 Roh-Ku akan Kuberikan diam di dalam batinmu dan Aku akan membuat kamu hidup menurut segala ketetapan-Ku dan tetap berpegang pada peraturan-peraturan-Ku dan melakukannya.

Kita telah melihat bahwa di mata Yesus, hati manusia sangatlah menentukan bagi cara manusia yang bersangkutan memandang manusia yang lain. Lebih tegas lagi, hati manusia sangatlah menentukan bagi cara manusia itu memahami tubuhnya sendiri dan bagi cara manusia itu melihat tubuh orang lain yang dijumpainya. Bila ini dihubungkan dengan tradisi para nabi, sebagaimana dalam seruan nabi Yehezkiel tadi, hati yang baru akan dengan demikian berarti pula cara memandang tubuh manusia secara baru. Hati yang baru berarti cara memandang tubuh manusia sebagaimana pada awal mula manusia diciptakan seturut gambar dan citra Allah, laki-laki dan perempuan. Maka kita perlu melihat lebih jauh arti pemberian hati yang baru ini.

Dalam TOB Yohanes Paulus II secara jelas menyertakan teks Yeh 36:25-27 ini pada catatan kaki ketika ia berbicara tentang kemurnian moral (moral purity) dalam tradisi Perjanjian Lama. Pokok itu menjadi lanjutan pembahasan atas kaitan antara kemurnian hati (purity and heart) (TOB 50). Demikian dikatakan oleh Yohanes Paulus II:

Dalam kaitan dengan tradisi yuridis dan religius Perjanjian Lama ini, dikembangkanlah sebuah cara paham keliru atas kemurnian moral. Kemurnian moral kerap dipahami melulu secara eksternal dan “material.” Bagaimana pun juga, sebuah kecenderungan eksplisit ke arah penafsiran semacam ini menjadi tersebar luas. Kristus menentangnya dengan sebuah cara yang radikal: tidak ada yang menajiskan seseorang “dari luar”; tidak ada kekotoran “material” yang bisa membuat seseorang tidak murni dalam arti moral. Tidak ada pembasuhan, bahkan pembasuhan ritual pun, yang pada dirinya sendiri mampu menghasilkan kemurnian moral. Kemurnian moral memiliki mata air melulu di dalam batin manusia: itu datang dari hati (TOB 50:3).

Mari kita lihat terlebih dahulu konteks dalam bab ke-36 kitab Nabi Yehezkiel. Hal pertama yang perlu kita lihat adalah ungkapan “kenajisan.” Dalam Yeh 36:25 secara jelas dikatakan adanya sebuah proses pembersihan dari “segala kenajisan” dan “semua berhala.” Tradisi para nabi menggunakan dua hal ini sebagai sebuah sinonim. Artinya, orang Israel menjadi “najis” ketika mereka tidak setia kepada Yahweh, beralih ke dewa-dewi lain, menyembah berhala-berhala. Dalam tradisi para nabi pula kita melihat bahwa “kenajisan” atau “ketidak-setiaan” Israel kepada Yahweh itu sering digambarkan secara lebih tegas dalam simbol ketidak-setiaan seorang perempuan (istri) kepada suami.

Nabi Hosea adalah salah satu contoh yang paling jelas untuk ini. Ia bahkan diperintahkan oleh Tuhan sendiri agar ia memperistri seorang perempuan yang memang tidak baik dan tidak setia. Ini dimaksudkan agar perkawinan Hoses dan istrinya itu sendiri menjadi simbol peringatan yang sangat tegas bagi Israel yang sering tidak setia kepada Yahweh dengan masih mengikuti dewa-dewi lain.

Nabi Yehezkiel sendiri mengambarkan simbol Israel sebagai seorang perempuan yang ditemukan sebagai bayi penuh darah, ditinggalkan orang, dibersihkan, telanjang, diberi pakaian indah, tetapi akhirnya memutuskan untuk menanggalkan pakaiannya dan memamerkan ketelanjangannya dalam berzinah dengan banyak laki-laki (Yeh 16). Dengan cara lain juga digambarkan ketidak-setiaan kerajaan Utara dan Selatan sebagai kenakalan dua kakak-beradik, Ohola dan Oholiba, yang membiarkan tubuh mereka dijamah, dinikmati, ditiduri oleh banyak laki-laki (Yeh 23).

Dengan semua contoh ini terlihatlah bahwa gambaran tentang “kenajisan” sebagai ungkapan “penyembahan berhala” secara mendasar memiliki nuansa arti “kenajisan seksual.” Berbagai aturan dalam tradisi imami, seperti terlihat jelas dalam rangkaian hukum Kitab Imamat, tidak meluputkan perhatian atas adanya kemungkinan ketika manusia menjadi najis, dan karenanya tidak bisa diikutsertakan dalam upacara ritual tertentu. Rangkaian hukum pun dikembangkan agar kenajisan itu bisa diatasi supaya orang yang bersangkutan bisa memiliki akses kembali ke dalam upacara ritual penyembahan terhadap Yahweh.

Bab ke-15 dalam Kitab Imamat memuat aturan berdasarkan kasus-kasus kenajisan atau ketidak-murnian yang berkaitan dengan seksualitas manusia: laki-laki yang menumpahkan lelehan secara tidak normal dari alat kelaminnya (Im 15:2-15); laki-laki yang menumpahkan air maninya (Im 15:16-18); perempuan yang mengeluarkan darah pada saat menstruasi (Im 15:19-24); perempuan yang mengeluarkan darah di luar saat menstruasi (Im 15:25-30). Juga termasuk dalam kenajisan dalam kaitan dengan seksualitas adalah ketika seorang perempuan yang baru saja melahirkan masih mengeluarkan cairan-cairan dari tubuhnya (Im 12). Ini adalah kelima kasus kenajisan yang disebabkan oleh sesuatu yang terjadi pada wilayah seksual manusia.

Kalau didekati secara lebih teliti, kelima kasus ini memperlihatkan sebuah kesadaran yang sungguh dalam, lebih daripada sekedar mengatur secara teliti soal-soal seksual belaka. Seorang laki-laki yang mengeluarkan lelehan secara tidak normal dari alat kelaminnya memperlihatkan adanya sesuatu yang tidak beres dalam organ reproduksinya. Ia tidak bisa menjalankan fungsi sebagai laki-laki untuk menaburkan benih dalam rahim perempuan. Seorang laki-laki yang mengeluarkan air mani jelas mengeluarkannya di luar rahim perempuan. Dengan demikian, air mani itu dikeluarkan secara keliru, tidak sebagaimana seharusnya. Air mani itu ditumpahkan tidak dalam rangka penaburan benih di dalam rahim perempuan. Seorang perempuan yang mengeluarkan darah pada saat menstruasi, maupun yang mengeluarkan darah secara tidak normal di luar saat menstruasi, memperlihatkan satu keadaan yang sama. Perempuan itu tidak siap untuk menerima benih dalam rahimnya. Hal yang sama secara jelas terjadi dalam tubuh perempuan tidak lama setelah ia melahirkan. Bila kelima kasus ini ingin dirangkum menjadi satu kasus, gambaran yang dihasilkan adalah jelas: semua adalah kasus ketika tubuh laki-laki atau tubuh perempuan tidak atau belum bisa berfungsi sebagaimana pada awal mula diciptakan, untuk bersatu menjadi satu daging, dalam persatuan dua pribadi (communio personarum), yang terbuka pada kemungkinan munculnya sebuah pihak ketiga, sebuah kehidupan baru, seorang manusia yang lain yang kelak akan dilahirkan.

Untuk memahami Yeh 36:25-27, dengan perhatian khusus pada pemberian hati yang baru, secara khusus kita perlu mengamati lebih dekat lagi kasus seorang perempuan yang sedang mengalami menstruasi. Mengapa? Dalam terjemahan bahasa Indonesia, istilah yang dipakai adalah “cemar kain.” Istilah yang sama juga digunakan dalam Yeh 36:17. Kita perlu membacanya dalam konteks yang sedikit lebih luas dalam Yeh 36:16-18 berikut ini:

36:16 Kemudian datanglah firman TUHAN kepadaku: 17 “Hai anak manusia, waktu kaum Israel tinggal di tanah mereka, mereka menajiskannya dengan tingkah laku mereka; kelakuan mereka sama seperti cemar kain di hadapan-Ku. 18 Maka Aku mencurahkan amarah-Ku ke atas mereka karena darah yang dicurahkan mereka di tanah itu, sedang tanah itu mereka najiskan dengan berhala-berhala mereka.

Di sini kita melihat, bahwa ketidak-setiaan Israel di tanah-tanah asing dalam bentuk penyembahan-penyembahan berhala disejajarkan dengan keadaan najis atau tidak murni seorang perempuan yang “cemar kain,” yang mengeluarkan darah pada saat menstruasi. Artinya, seorang perempuan yang sedang mengalami menstruasi pasti tidak berada dalam kondisi siap untuk bersetubuh dan dibuahi. Maka, dengan mengatakan bahwa ketidak-setiaan Israel itu sama dengan seorang perempuan yang sedang menstruasi, yang dimaksud secara tegas sebenarnya adalah kondisi orang Israel yang belum siap “bersatu” dengan Tuhan yang sudah siap untuk menaburkan benih Ilahi-Nya. Dengan kata lain, melalui Nabi Yehezkiel, Tuhan ingin mengatakan kepada bangsa Israel sebuah simbolisme yang sangat indah, yang sangat mendasar, yang membawa kembali ke keadaan pada awal mula ketika manusia diciptakan seturut gambar dan citra Allah, laki-laki dan perempuan.

Kelakuan Israel yang disamakan dengan kondisi perempuan yang cemar kain itu secara tegas sebenarnya merupakan teguran keras bagi Israel yang tidak bisa atau tidak siap untuk menciptakan kesatuan antarpribadi, communio personarum, dengan diri Tuhan sendiri. Di sini memang tidak digambarkan tentang seorang perempuan yang tidak setia pada suaminya. Yang digambarkan adalah seorang perempuan yang tidak siap bersatu dengan suaminya. Meskipun tampaknya perempuan itu masih setia, ia ada dalam keadaan tidak siap untuk menerima taburan benih dari suaminya dalam sebuah tindak persetubuhan. Meskipun Israel merasa bahwa mereka masih kurang-lebih setia kepada Yahweh, mereka sebenarnya berada dalam keadaan tidak siap atau tidak mampu terbuka bagi Yahweh secara penuh dalam tindak saling memberi diri secara total. Israel adalah seumpama seorang istri yang terus-menerus mengalami menstruasi, tetapi meskipun menyadari hal itu, ia tetap tidak melakukan tindakan apa pun. Dengan kata lain, ia menutup diri terhadap suaminya. Dengan kata lain, ia merendahkan martabat suaminya. Israel yang digambarkan sebagai perempuan yang cemar kain adalah gambaran tentang Israel sebagai istri yang terus-menerus dengan sengaja merendahkan martabat Yahweh sebagai suami yang setia. Gambaran tentang perempuan yang cemar kain dengan demikian adalah gambaran tentang kesalahan yang sungguh serius yang terus-menerus dilakukan oleh Israel terhadap Yahweh.

Aturan yang berkaitan dengan kenajisan seorang perempuan yang cemar kain dalam Im 15:19-24 meminta agar dalam keadaan seperti itu dilakukan pembasuhan untuk “mencuci” atau “membersihkan” diri dari segala yang membuat najis itu. Bila kenajisan Israel digambarkan dalam Yeh 36:17 sebagai seorang perempuan yang cemar kain, kita bisa menangkap arti gambaran tentang air yang menjernihkan dalam Yeh 36:25 “Aku akan mencurahkan kepadamu air jernih, yang akan mentahirkan kamu; dari segala kenajisanmu dan dari semua berhala-berhalamu Aku akan mentahirkan kamu.” Artinya, simbol air yang membersihkan itu menunjuk pada tindakan Tuhan yang akan membuat manusia bisa kembali menghormati-Nya, dan siap kembali bersatu dengan-Nya untuk menerima benih dari-Nya agar kehidupan Ilahi diteruskan di tengah Israel. Dalam gambar yang lebih besar, Israel yang tidak setia digambarkan sebagai manusia yang tidak mau memandang tubuhnya sebagai yang diciptakan menurut gambar dan citra Allah. Jadi, kembali, ini semua berkaitan dengan cara memandang tubuh.

Allah mengatakan berkali-kali dengan penuh keyakinan. “Aku akan membuat kamu kembali bisa melihat tubuhmu secara benar. Aku akan membuatmu melihat kembali tubuhmu sebagaimana seorang istri yang bersama suaminya ingin saling menyerahkan diri secara total total. Aku akan membuatmu kembali siap untuk bersatu dengan Aku.” Sebagaimana halnya persatuan antara laki-laki dan perempuan pada awal diciptakan sebagai gambar dan citra Allah membuka pada adanya kehidupan baru, demikian pula halnya antara Israel dan Yahweh. Pada akhir bab 36 Tuhan bahkan mengundang Israel agar meminta apa yang memang bisa dan akan dilakukan Tuhan bagi mereka: membuat mereka bertambah banyak. Artinya, ketika Israel sebagai perempuan terbuka kepada Yahweh sebagai sang suami yang setia, akibat yang dihasilkan adalah berkembang-biaknya Israel. Demikian ditegaskan dalam Yeh 36:37-38:

36:37 Beginilah firman Tuhan ALLAH: Dalam hal ini juga Aku menginginkan, supaya kaum Israel meminta dari pada-Ku apa yang hendak Kulakukan bagi mereka, yaitu membuat mereka banyak seperti lautan manusia. 38 Seperti domba-domba persembahan kudus, dan seumpama domba-domba Yerusalem pada waktu-waktu perayaannya, begitulah kota-kota yang sudah runtuh penuh dengan lautan manusia. Dengan begitu mereka akan mengetahui bahwa Akulah TUHAN.

Tuhan, Yahweh, Allah Israel, hanya akan bisa mewujudkan semuanya itu bila Israel, sebagai sang istri, berhenti dari keadaan menstruasinya. Selama mereka berada dalam keadaan itu tidak akan pernah ada kehidupan baru yang dihasilkan, yang merupakan tanda jelas adanya benih kehidupan Ilahi sendiri.

Hati dan roh baru: simbolisasi “persatuan perempuan dan laki-laki”

Dalam konteks ini, janji Tuhan dalam Yeh 36:25 harus dipahami secara lebih spesifik dalam kaitannya dengan hati dan roh yang berperan dalam cara manusia memandang kenyataan dirinya yang bertubuh, laki-laki dan perempuan. Secara lebih sempit, hati dan roh yang baru harus berperan untuk menyadarkan Israel, sebagai perempuan, untuk berhenti dari situasi menstruasinya. Israel diminta untuk kembali menjadi seorang perempuan yang siap dan terbuka bersatu dengan suaminya. Dengan kata lain, dari pihak Israel diminta sebuah cara pandang yang selaras dengan apa yang ada pada awal mula. Mereka diminta untuk memandang “keperempuanan” sebagai gambar dan citra Allah sendiri. Selain itu, dari pihak Israel juga diminta sebuah sikap percaya, terbuka penuh, pada Allah. Israel diminta untuk tidak merasa terancam lagi oleh cara Allah memandang mereka. Hanya bila rasa terancam tergantikan oleh rasa aman dan saling percaya, persatuan suami istri benar-benar selaras dengan keadaan pada awal mula manusia diciptakan, laki-laki dan perempuan. Artinya, Israel diminta untuk memandang “kelaki-lakian” yang benar dalam diri Allah. Hubungan antara Israel dan Yahweh sendiri harus dilihat secara baru, sebagaimana halnya hubungan antara laki-laki dan perempuan pada awal mula diciptakan. Laki-laki dan perempuan siap dan mampu menciptakan bersama sebuah persatuan dalam pemberian diri total satu kepada yang lain, sebuah communio personarum. Demikianlah, hati dan roh harus tidak pernah terpisahkan dari tubuh manusia. Dengan cara ini kita harus memahami Yeh 36:26

Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat.

Tubuh yang memuat hati yang keras adalah gambaran tentang tubuh yang sudah memiliki sebuah logika tersendiri yang terkontaminasi oleh dosa. Logika atau cara berpikir yang semula ada – tubuh sebagai pewahyuan Allah yang ingin memberikan diri secara total – sudah secara menyeluruh tergantikan. Logika yang baru mengatakan bahwa tubuh harus digunakan untuk bisa mendapat kepuasan diri dengan menggunakan tubuh yang lain. Tindak Israel yang berganti-ganti berhala, yang berkali-kali menyembah dewa dan dewi yang berbeda-beda, adalah juga seperti perempuan yang menggunakan tubuh sebagai pintu bagi kepuasan diri dengan memanfaatkan tubuh laki-laki. Bukan lagi logika pemberian diri yang total, melainkan pemuasan diri sendiri dan pemanfaatan orang lain. Dengan kata lain, logika tubuh ini sudah menyingkirkan logika hati yang ada pada awal mula. Hati sendiri pun sudah menjadi keras, karena sudah dibentuk untuk mengikut saja logika tubuh yang mencari pemuasan diri dengan memanfaatkan tubuh yang lain.

Sebagaimana dipahami oleh Yohanes Paulus II, Yesus menentang pandangan legalistis yang melihat ketidak-murnian atau kemurnian moral melulu secara eksternal atau material. Bagi Yesus, kemurnian sangat ditentukan oleh hati manusia yang bersangkutan. Ini terlihat jelas dari perkataan Yesus dalam kotbah di bukit: Kamu telah mendengar firman: ‘Jangan berzinah.’ Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya” (Mat 5:27-28). Ini tidak lain adalah cara Yesus untuk berbicara tentang pentingnya menyingkirkan hati yang sudah mengeras dalam diri manusia yang karena dosa sudah sedemikian tumpul dan begitu saja senantiasa mengikuti dorongang-dorongan keinginan tubuh yang mencari pemuasan diri dengan memanfaatkan yang lain.

Dalam konteks Yeh 36, hati yang keras adalah hati Israel yang tidak mampu atau tidak mau lagi melihat diri mereka dalam simbolisasi “keperempuanan” dan diri Allah sendiri dalam simbolisasi “kelaki-lakian.” Hati yang keras adalah hati seorang perempuan yang dengan sadar membiarkan diri terus berada dalam keadaan menstruasi, sehingga tidak terbuka bagi persatuan dengan suaminya. Hati yang keras adalah hati seorang perempuan yang dalam keadaan menstruasi terus bersatu dengan banyak laki-laki lain karena tahu bahwa dari sana tidak akan ada kehidupan. Hati yang keras adalah Israel yang sudah tertutup bagi Alllah sumber kehidupan sendiri.

Hati adalah pusat kesadaran. Hati adalah pusat pemahaman, keputusan, pemikiran. Hati adalah unsur penting yang akan menentukan manusia yang satu berelasi dengan manusia yang lain. Bila hati ini diubah, entah ke arah yang buruk, entah ke arah yang baik, kesadaran, keputusan, dan tindakan manusia akan berubah dengan sendirinya. Karena manusia hanya bisa sungguh ada dan hidup dengan seluruh kenyataan tubuhnya, laki-laki dan perempuan, sebuah perubahan terhadap hati, sekecil apa pun akan berakibat langsung pada cara manusia memandang tubuhnya sendiri dan tubuh orang lain.

Selain tentang hati yang baru, dalam Yeh 36:26 juga berbicara tentang roh yang baru. Ini secara jelas menempatkan kembali Israel pada situasi awal ketika Allah menciptakan manusia seturut gambar dan rupa-Nya, laki-laki dan perempuan. Pada awal mula Allah menciptakan banyak tubuh (animalia). Ketika Allah menciptakan ’adam, manusia, Ia menghembuskan nafas ke dalam tubuh yang sudah siap itu, sehingga tubuh itu menjadi hidup. Artinya, berbeda dari tubuh-tubuh yang lain (animalia), dalam diri ’adam, sebuah tubuh membawa dalam dirinya sendiri kemampuan untuk menjadi sebuah persona. Karena ’adam adalah sebuah persona, ia tidak menemukan penolong di antara animalia itu. Hanya setelah Allah terbangun dari tidur nyenyaknya, ’adam melihat dan mengenali sebuah tubuh lain sebagai persona, sebagai penolong. Hanya di antara mereka inilah akan ada sebuah persatuan antarpribadi sebagaimana halnya yang ada dalam diri Allah sendiri, sebuah communio personarum. Roh yang berasal dari Allah itulah yang sangat menentukan. Karena adanya roh Ilahi inilah manusia mampu mengenal dan melakukan tindakan yang sungguh merupakan cerminan communio personarum dalam diri Allah sendiri.

Dalam terang inilah, Yeh 36:26 memiliki arti yang sangat spesifik. Seolah-olah Allah sendiri ingin meyakinkan Israel untuk memandang relasi antara dirinya sendiri dan Yahweh seperti relasi yang ada pada awal mula manusia diciptakan. Yahweh ingin mengatakan kepada Israel: kembalilah ke keadaan seperti pada awal mula agar kalian bisa melihat bahwa kalian dan Aku digerakkan ke arah communio personarum itu.

Bila Yeh 36:25-27 ingin dibaca dengan urutan yang berlawanan arah, kita akan melihat sebuah proses dalam tindakan Allah bagi manusia. Allah memberi kembali roh Ilahinya yang memungkinkan manusia ada dan hidup sebagai manusia sejak awal mula diciptakan. Manusia yang hidup karena adanya roh Ilahi ini memiliki pusat kesadaran pada hatinya. Allah pun akan memberikan hati yang baru, supaya kehadiran roh Ilahi-Nya tidak dihalangi, melainkan justru didukung dan diberi ruang luas dalam kesadaran manusia. Roh dan hati yang baru ini mau tidak mau akan membawa akibat langsung pada sikap manusia terhadap tubuhnya yang diciptakan secitra dengan Allah, laki-laki dan perempuan. Bila gambaran diri Israel tentang tubuh menurut sudut pandang “keperempuanan” dan pandangan tentang Yahweh menurut “kelaki-lakian” itu sudah dipulihkan, tanpa diragukan lagi akan ada communio personarum antara Israel dan Yahweh, akan ada kehidupan-kehidupan baru yang dihasilkan dari persatuan intim antarpribadi yang saling memberikan diri secarat total satu kepada yang lain.

Artinya, Yeh 36:25-27 menghadirkan sebuah jalan pikiran Allah dalam memulihkan manusia. Yang paling dekat adalah kenyataan tubuh yang terlihat. Itu harus dipulihkan terlebih dahulu. Supaya pemulihan itu berjalan baik, hati perlu diubah. Lebih jauh lagi, supaya kembali jelas ada kehadiran yang Ilahi, roh pun perlu diubah. Secara praktis, ini berarti, setiap kali kita mengharapkan agar Allah kembali mencurahkan Roh-Nya kepada kita, sebenarnya kita pun mengharapkan serangkaian tindakan yang sangat khusus yang hanya bisa dilakukan oleh Allah sendiri. Ketika kita meminta pencurahan Roh-Nya atas kita, suasana pada awal mula manusia diciptakan itulah yang kita inginkan juga kembali hadir. Kita meminta Roh yang Ilahi yang membuat kita mampu untuk terbuka bagi persatuan dalam communio personarum. Roh yang Ilahi itu membuat hati, seluruh kesadaran kita pun berubah. Dengan hati yang baru itu, akan muncul pula cara memandang yang baru. Semua itu membawa kita pada pengalaman mendasar akan Allah yang melakukan penebusan bagi tubuh kita, bagi cara kita memahami “keperempuanan” dan “kelaki-lakian,” baik untuk diri sendiri, antara kita manusia, maupun antara kita dan Allah.

Pencurahan Roh tidak pernah merupakan sebuah permohonan untuk melawan tubuh! Pencurahan Roh adalah sebuah permohonan agar tubuh kembali berfungsi sebagai cermin yang terlihat bagi kenyataan Allah yang tak terlihat. Pencurahan Roh secara spesifik membawa kita justru pada penghormatan mendalam akan tubuh manusia. Selama Roh kita pahami sebagai sebuah kekuatan ekstra bagi kita untuk berperang mengalahkan tubuh kita, selama itu pula kita sebenarnya justru melukai hati Allah. Allah ingin menebus kita secara utuh, agar kita kembali hidup dan merayakan hidup sebagai citra Allah, laki-laki dan perempuan. Kepenuhan Roh selalu berarti sebuah hormat mendalam akan tubuh manusia.

Hati baru: menjaga tubuh bagi “perkawinan abadi” dengan Anak Domba

Apa konsekuensi yang praktis bagi kita semua? Hati baru ini perlu kita tempatkan dalam kerangka yang lebih besar seluruh perjalanan hidup kita sebagai manusia yang diciptakan seturut gambar dan citra Allah, laki-laki dan perempuan. Ini penting untuk terus kita ingat, karena bagaimana pun hati baru yang kita mohon dari Allah itu tidak pernah kita hayati terlepas dari tubuh kita. Hati baru selalu kita alami, hayati, rasakan, ungkapkan dalam kenyataan kita yang selalu secara mendasar dicirikan oleh “kelaki-lakian” atau “keperempuanan” kita. Ini penting, karena iman kita adalah sebuah iman yang berdasar pada sebuah analogi besar, sebuah simbolisasi besar yang membawa kita pada sebuah “perkawinan.” Dengan kata lain, penantian kita dalam perjalanan menuju saat ketika kita sungguh masuk dalam “perkawinan” itu hanya bisa kita pahami dalam “kelaki-lakian” dan “keperempuanan” kita. Dengan dasar ini, mari kita beberapa konsekuensi praktis.

Pertama, hati yang baru adalah hati seorang calon pengantin. Dalam Why 19:7 kita mendengar seruan lantang penuh sukacita: “Marilah kita bersukacita dan bersorak-sorai, dan memuliakan Dia! Karena hari perkawinan Anak Domba telah tiba, dan pengantin-Nya telah siap sedia.” Pengantin perempuan yang dimaksud itu adalah Gereja, dan pengantin laki-laki tidak lain adalah Anak Domba, yakni Yesus Kristus sendiri. Kita menantikan saat pemenuhan akhir itu, saat kita akan “dinikahi” oleh Sang Anak Domba. Semua orang, baik laki-laki maupun perempuan, baik menikah maupun selibat, baik perawan-perjaka maupun tidak, bergerak dalam kerinduan itu. Kerinduan akan persatuan itu sudah tercetak secara mendalam dalam diri kita dalam bentuk seluruh rincian tubuh kita, laki-laki dan perempuan.

Hati yang baru, dengan demikian, tidak lain adalah hati seorang manusia, laki-laki atau perempuan, yang ingin menyiapkan diri semurni, sepolos, sejujur, sebersih apa pun, dengan satu tujuan jelas, agar hari pernikahan nanti benar-benar menjadi hari di mana persatuan cinta, communio personarum, benar-benar bisa dirayakan dalam segala keagungan dan kekayaan rahmat di dalamnya. Hati yang baru adalah hati yang dibersihkan dari segala kekotoran masa lalu, supaya pada saat hari pernikahan agung itu, antara Gereja dan Anak Domba, kita bisa benar-benar membuka diri dan memberikan diri secara total kepada Dia, dan pada saat yang sama menerima secara total pemberian diri-Nya itu. Hati yang baru adalah hati yang kembali kepada Ekaristi, karena dalam perayaan Ekaristi itulah kita mencicipi keindahan pernikahan abadi itu, ketika kita menerima Yesus sendiri yang memberikan Diri-Nya secara total dengan berkata “Inilah Tubuh-Ku, Inilah Darah-Ku.”

Kedua, hati yang baru membuat kita bisa memandang orang lain sebagai subjek yang memiliki keluhuran pada dirinya sendiri, sehingga saya tidak akan pernah lagi inign memperlakukan siapa pun manusia di dunia ini sebagai objek pemuas diri saya sendiri. Dalam Gal 5:17 dikatakan: “Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging…” Daging di sini tidak pernah diidentikkan dengan seks atau tubuh jasmani manusia. Pada saat penciptaan, sebelum adanya Roh Allah yang dihembuskan, apa yang sudah dibuat oleh Allah hanyalah seonggok daging yang membentuk tubuh. Ini tidak berbeda dari segala macam tubuh yang ada di sekitanya (animalia).

Yohanes Paulus II secara khusus dalam rangkaian TOB menyediakan sepuluh ceramah untuk mengakhiri tema tentang “manusia historis” (manusia yang sudah dinodai oleh dosa dan kehilangan cara memandang tubuh sebagaimana ada pada awal mula). Kemurnian hati adalah kembalinya kemampuan memandang tubuh itu sebagaimana ada pada saat awal mula diciptakan.

Ketiga, hati yang baru membuat kita mengalami pembebasan dari segala tipuan yang berkaitan dengan tubuh. Ini secara jelas diperlihatkan dalam sikap kita terhadap tubuh kita sendiri dan terhadap tubuh orang lain. Secara jelas ini mengajak kita untuk melihat sebuah kenyataan yang secara mendalam merupakan penghinaan terhadap martabat tubuh kita sendiri: masturbasi, pornografi, hubungan seks di luar nikah. Hati yang baru adalah hati yang ingin kembali memperbarui kesediaan dan kemurahan hati kita dalam bersikap secara benar terhadap tubuh kita. Tuhan sendiri menggunakan bahasa pernikahan yang sangat seksual. Tuhan ingin agar bahasa seperti itu sungguh dipahami dengan benar. Karena itulah kita harus mulai dengan tubuh kita sendiri.

Keempat, hati yang baru membuat kita berani bermurah hati menjaga mata kita. Paulus menunjuk ke arah lain, yang sejalan dengan konsep tentang tiga macam bentuk keinginan yang sudah terkontaminasi. Dalam 1Yoh 2:16 dikatakan: “Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia [NAB: sensual lust, enticement for the eyes, pretentious life; KJV: the lust of the flesh, and the lust of the eyes, and the pride of life; NIV: the cravings of sinful man, the lust of his eyes and the boasting of what he has and does].

Kelima, hati yang baru adalah hati yang bermurah hati mengikuti kesadaran baru dan melakukan langkah-langkah tegas, jelas, konsisten. Lanjutan dari perkataan Yesus dalam kotbah di bukit memberi penjelasan yang tegas. Dalam Mat 5:29-30 Yesus berkata: “Maka jika matamu yang kanan menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa, daripada tubuhmu dengan utuh dicampakkan ke dalam neraka. Dan jika tanganmu yang kanan menyesatkan engkau, penggallah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa dari pada tubuhmu dengan utuh masuk neraka.” Hati yang baru bisa mendorong Anda untuk memindahkan komputer dari kamar Anda ke ruang makan atau ruang keluarga bila komputer itu menyesatkan Anda.

Keenam, hati yang baru membuat kita berhati-hati dan waspada terhadap segala yang keluar dari dalam diri kita. Yesus menegaskan dalam Mat 15:11: “…bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang, melainkan yang keluar dari mulut, itulah yang menajiskan orang.” Ini berarti apa? Ini berarti, kita harus berhati-hati terhadap segala kemungkinan yang bisa muncul dari hati, seperti dijelaskan oleh Yesus sendiri dalam Mat 15:19: “segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat.”

Ketujuh, hati yang baru akan menghasilkan rasa damai dalam hati yang akan berpengaruh bagi seluruh cara kita bersikap dalam hidup ini. Dalam Rom 8:6 ditegaskan: “Karena keinginan daging adalah maut, tetapi keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera.” Hati yang baru membuat kita jujur melihat penyebab segala kegelisahan dalam hidup kita. Pada umumnya, tidak ada yang lebih menggelisahkan selain hidup dalam kepura-puraan. Hidup yang selalu lelah karena harus menyembunyikan sesuatu, hidup yang menyedihkan, karena kita harus selalu memakai topeng. Hati yang baru, tegasnya, meminta kita untuk membawa segala yang kita rahasaikan dan kita simpan rapat-rapat ke tempat di mana ruang lebar terbuka, penuh cahaya cinta Kristus.

Memandang “Tubuh Itu”

Dalam tradisi doa rosario kita mengenal adanya peristiwa sedih. Ini biasanya dianjurkan untuk menyertai doa rosario pada hari Selasa dan Jumat. Urutan yang perlu direnungkan adalah: 1) Yesus berdoa dalam kesedihan dan ketakutan-Nya di taman Getsemani; 2) Yesus didera, disiksa, disakiti brutal dan mengerikan; 3) Yesus menerima mahkota yang terbuat dari duri-duri tajam yang langsung menusuk kepala-Nya; 4) Yesus memanggul salib yang terbuat dari kayu kasar yang langsung bergesekan dengan kulit-Nya yang sudah terlupa dan terkelupas; 5) Yesus dipakukan pada salib hingga Ia wafat.

Sebelum serangkaian pengalaman itu, kita tahu, Yesus dan para murid-Nya merayakan perjamuan terakhir. Dalam perjamuan terakhir itu Yesus berkata “Inilah Tubuh-Ku” dan “Inilah Darah-Ku.” Ini dilakukan-Nya sebagai seorang laki-laki. Kelima peristiwa sedih yang kita renungkan dalam doa rosario sebenarnya adalah lima titik penting di mana kita diajak untuk terus mendengar suara-Nya yang berkata “Inilah Tubuh-Ku; Inilah Darah-Ku.” Pada saat itu kita diajak untuk melihat Yesus yang memberikan diri secara total. Dalam diri-Nya itulah kita melihat seorang manusia yang bertubuh, yang secara bebas, total, setia, dan menghasilkan buah, memberikan diri-Nya.

Dalam suara-Nya kita mendengar kembali suasana pada awal mula manusia diciptakan seturut gambar dan rupa Allah, untuk menciptakan communio personarum, kesatuan mendalam antarpribadi yang saling memberikan diri. Dengan memandang Tubuh-Nya, kita pun sebenarnya memiliki pintu masuk untuk memdang hati-Nya, dan memandang Roh-Nya. Dalam diri Yesus, kesatuan Roh Ilahi, hati, dan tubuh, tidaklah terpisahkan, dan tidaklah terkontaminasi oleh dosa. Pada tubuh itu kita melihat rencana Allah pada awal mula terhadap tubuh kita masing-masing, laki-laki dan perempuan. Dari Tubuh-Nya itu terpancar luapan “kelaki-lakian” sejati, yang mengundang kita masing-masing untuk memeluk “kelaki-lakian” dan “keperempuanan” sejati kita sebagaimana kita diciptakan sendiri oleh Allah pada awal mula.

Penulis Surat Petrus Yang Pertama secara khusus menunjuk pada Tubuh yang tersalib itu dan mengajak kita untuk melihat dan mengalami kekuatan penyembuhan luar biasa dari sana. Dikatakan demikian dalam 1Ptr 2:23-24:

2:23 Ketika Ia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki; ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam, tetapi Ia menyerahkannya kepada Dia, yang menghakimi dengan adil. 24 Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh.

Ketika Ia mengalami itu semua tentu saja Ia tidak mengelak atau membalas, karena dalam hati Ia terus berkata “Inilah Tubuh-Ku, Inilah Darah-Ku, Kuberikan Diri-Ku sepenuhnya untukmu.” Karena itulah, oleh luka-luka-Nya, oleh tubuh yang disakiti dan oleh darah yang ditumpahkan, kita menjadi sembuh. Mengapa? Kita melihat sebuah tubuh, kita melihat Tubuh Itu, yang benar-benar tahu apa artinya hidup sebagai manusia dengan tubuhnya, yang tahu benar-benar bahwa tubuh adalah cermin bagi Allah yang terlihat, yang tahu benar-benar bahwa cara memandang tubuh secara benar harus dimulai dari hati yang sesuai dengan Allah, dan harus terus digerakkan oleh daya hidup dari Roh Ilahi sendiri. Tubuh Itu, ya Tubuh Itu.

Perjamuan terakhir tidak bisa dipisahkan dari seluruh proses penyaliban Yesus hingga wafat-Nya. Perayaan Ekaristi, adorasi terhadap Sakramen Mahakudus tidak bisa dipisahkan dari penyembahan terhadap Yesus yang tergantung pada kayu salib. Ucapan Yesus “Inilah Tubuh-Ku, Inilah Darah-Ku” memperoleh bentuk yang paling nyata pada saat Ia memikul salib dan tergantung pada salib itu hingga akhir.

Kedua murid yang bersedih yang pulang ke Emaus akhirnya mengenali Yesus pada saat pemecahan roti. Pada saat itulah mata mereka terbuka. Saat kita melihat roti itu kembali dipecah, saat “Tubuh” itu kembali diberikan, dalam setiap perayaan Ekaristi adalah saat mata kita terbuka dan mengenali-Nya. Mata terbuka setelah melihat Tubuh. Ini adalah pembalikan dari pengalaman dosa laki-laki dan perempuan pertama. Setelah mereka makan buah terlarang itu, mata mereka terbuka, sehingga mereka tidak bisa lagi memandang tubuh mereka sebagaimana pada awal mula mereka diciptakan, laki-laki dan perempuan. Ekaristi adalah saat ketika kita melihat lagi bilur-bilur Yesus, luka-luka Yesus, Tubuh Itu. Dari sana, mata kita kembali terbuka (lih. Christopher West, Heaven’s Song, hlm. 43-44; ia merujuk pada Benediktus VI, The Spirit of the Liturgy; kembali, bahasa liturgi adalah bahasa tubuh yang pada dasarnya sangat seksual dalam tingkat yang paling murni sebagaimana ada pada awal mula).

Dalam terang Yeh 36:25-27, kita bisa percaya sepenuhnya, bahwa dengan memandang Tubuh Itu, mata kita pun akan terbuka untuk juga kembali memandang tubuh kita sebagai manusia sebagaimana pada saat kita diciptakan. Untuk kembali ke keadaan awal itu memang tidak mungkin. Meskipun demikian, kita tahu, dengan memandang Tubuh Itu, kita bisa yakin bahwa kita punya kekuatan untuk memandang tubuh kita, tubuh orang lain, tubuh semua orang secara baru. Dengan itu pula kita mengalami ruang bari hati dan roh baru yang dijanjikan Tuhan.

Pulo Nangka Timur 64-65

23 Oktober 2008

Something about Mary

Halo semua. Ini posting pertama, bahan ocehanku di Seminar “Something about Mary” Minggu, 12 Oktober 2008 di Shekinah, Jakarta. Semoga jadi berkat untuk semua.

Salam,

Romo Deshi Ramadhani, SJ


Something about Mary

Deshi Ramadhani, SJ

(Seminar Sehari bersama Riko & Lia Ariefano; Shekinah, 12 Oktober 2008)

Mungkin Anda bertanya-tanya, apa arti judul semacam ini. Judul ini sengaja dipilih dengan beberapa alasan. Pertama, judul ini mengingatkan kita akan sebuah film beberapa tahun yang lalu There’s Something about Mary (1998). Film itu berkisah tentang seorang pemuda bernama Ted (Ben Stiller) yang begitu terpesona dan tergila-gila pada seorang pemudi bernama Mary (Cameron Diaz). Kenangan masa lalu akan Mary menggerakkan Ted untuk melakukan apa saja agar bisa mengenalnya secara lebih dekat. Ada sebuah daya yang luar biasa kuatnya yang menggerakkan Ted itu untuk terus berusaha mendekatkan diri pada Mary.

Orang-orang lain memberi reaksi yang bermacam-macam kepada Ted. Ada yang menganggap ia bodoh dan tidak tahu diri karena bermimpi terlalu tinggi untuk bisa memiliki Mary. Ada yang mendukungnya dan memberi banyak usulan agar dilakukannya. Ada yang tidak bisa mengerti. Ada yang sekedar melihat saja sambil terus bertanya-tanya dalam hati. Apa pun reaksi orang, daya yang menggerakkan dalam diri Ted tidak bisa dibendung. Ia terus mencoba dan mencoba dan mencoba. Ia terus mencari dan mencari dan mencari. Bagi saya, film tersebut memperlihatkan kekuatan daya tarik atau daya pikat seseorang yang telah dilihat secara mendalam dan secara sangat pribadi oleh seseorang yang lain.

Kedua, judul ini mengingatkan kita akan seorang tokoh perempuan besar dalam sejarah umat manusia. Dia bernama Mary, Miryam, Mariam, Maria! Dia adalah the Mary. Dia adalah Sang Maria, yang sering kita sapa atau kita sebut dengan penuh cinta sebagai Ibu Maria, ibu kita semua. Ada sesuatu dengan Maria, something about Mary, yang begitu mempesona bagi banyak umat Katolik. Orang lain memberi reaksi yang bermacam-macam, seperti halnya kisah dalam film tadi. Judul Something about Mary bukanlah sekedar judul. Ada yang lebih dalam yang ingin diperlihatkan di sini. Ada sebuah daya yang begitu kuat yang menggerakkan banyak umat Katolik untuk terus mendekat dan mendekat dan mendekat. Ada sebuah dorongan yang begitu kuat yang membuat umat Katolik terus menyapa dan menyapa dan menyapa Ibu Maria.

Ketiga, judul ini mengingatkan kita akan pentingnya pengalaman pribadi yang menyentuh inti kedalaman hati manusia. Ted tidak bisa dipaksa untuk menyukai Mary. Ia tidak bisa dipaksa pula untuk tidak menyukainya. Ted tahu bahwa ada sesuatu yang bergerak dalam dirinya, karena ia melihat ada sesuatu yang begitu istimewa dalam diri Mary. Ted sendiri pun tidak bisa merumuskan secara pasti dengan kata-kata apa yang begitu mempesona dalam diri Mary. Ted hanya tahu, ada sesuatu yang menjadi kontak antara dirinya dan Mary.

Demikian pula halnya dengan kontak antara kita dan Ibu Maria. Tidak ada seorang pun yang bisa memaksa saya dan Anda untuk menyukai atau tidak menyukai Ibu Maria. Saya bisa memberi penjelasan kepada Anda tentang segala macam hal yang begitu mengagumkan dalam diri Ibu Maria, tetapi saya sadar sepenuhnya bahwa saya tidak akan pernah bisa membuat Anda menyukai Ibu Maria. Pihak-pihak tertentu bisa memberi penjelasan apa saja supaya saya tidak menyukai Ibu Maria, atau supaya saya berhenti mendekatinya, atau supaya saya behenti menyapanya, tetapi tidak ada seorang pun yang bisa membuat saya tidak menyukai Ibu Maria.

Situasi ini sama seperti seorang pemuda yang sedang begitu tergila-gila pada seorang pemudi, atau sebaliknya. Orang tua, kakak, adik, teman-teman, semua bisa melihat segala keburukan dalam diri pemuda atau pemudi itu, tetapi tetap saja, bagi pemudi atau pemuda yang bersangkutan, ada sesuatu yang begitu mempesona dalam diri orang yang begitu istimewa itu. Atau sebaliknya, banyak orang ingin memperkenalkan Anda pada seseorang dengan menjelaskan segala hal yang baik dalam diri orang itu, tetapi bagi Anda orang itu tetap biasa saja. Apa artinya ini semua? Mungkin Anda yang bersangkutan pun tidak bisa menjelaskan secara tepat dengan kata-kata. Meskipun demikian, Anda tahu tentang satu hal secara pasti, bahwa ada sesuatu dalam diri pemuda atau pemudi yang dikaguminya itu. Ia tahu pasti, ada sebuah daya yang menggerakkannya terus ke arah orang yang dikaguminya itu. Selama belum ada daya itu, selama belum ada klik antara Anda dan orang itu, Anda tidak akan pernah bisa berkata ada sesuatu dalam diri orang itu.

Hal yang sama terjadi dengan tulisan ini. Saya akan mencoba menjelaskan dengan kata-kata apa yang bagi saya begitu mempesona dalam diri Ibu Maria. Ketika saya melakukan ini saya sadar akan dua hal penting. Pertama, kata-kata saya pasti tidak bisa menjelaskan apa yang sebenarnya bergerak dalam hati saya terhadap Ibu Maria. Ada sebuah keindahan yang sungguh melampaui kemampuan kata-kata untuk bisa menunjuk dan merangkumnya. Kedua, saya pasti tidak bisa memaksa Anda untuk menyukai Ibu Maria. Untuk bisa seperti itu, dibutuhkan pengalaman pribadi Anda masing-masing. Anda perlu melihatnya jauh melampaui kata-kata. Anda harus kembali ke inti kedalaman hati Anda dan dari sana melihat apa yang sebenarnya begitu mempesona dari diri Ibu Maria. Selama belum ada klik antara Anda dan Ibu Maria, Anda tidak akan pernah akan mengatakan there’s something about Mary.

Mengingat sebagian besar pendengar dalam seminar ini adalah orang-orang muda, saya ingin berbicara tentang dua hal besar dalam diri Maria, yang mungkin akan lebih dekat dengan situasi orang muda. Dua hal besar itu adalah “keperawanan” (virginity) dan “ke-ibu-an” (motherhood). Saya akan memperlihatkan bahwa keindahan kedua hal ini dalam diri Maria membuka pintu masuk bagi setiap orang dari kita, baik laki-laki maupun perempuan, untuk semakin memahami siapa diri kita sebenarnya yang diciptakan sebagai laki-laki dan perempuan, sehingga karenanya juga semakin tahu apa yang harus kita lakukan sebagai laki-laki dan perempuan.

Maria sebagai perawan

Dalam Injil Lukas kita membaca kisah ini: “Dalam bulan yang keenam Allah menyuruh malaikat Gabriel pergi ke sebuah kota di Galilea bernama Nazaret, kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria” (Luk 1:26-27). Maria adalah seorang perawan. Apa artinya ini? Di satu pihak kenyataan inilah yang oleh Gereja selama berabad-abad selalu diajarkan dan oleh banyak generasi dilihat sebagai sesuatu yang begitu mengagumkan dalam diri Maria. Di lain pihak, pada masa ini khususnya, justru hal ini yang sering begitu sulit untuk diterima. Mengapa keperawanan justru dilihat sebagai sesuatu yang baik?

Mari kita lihat terlebih dahulu budaya di sekitar kita yang selama tahun-tahun terakhir ini begitu memborbardir kesadaran kita. Anda pasti telah menyaksikan film-film yang memberikan tipuan yang sangat memikat. Bisa kita ambil contoh film American Pie (1999). Alur kisahnya jelas: bagaimana empat pemuda begitu digelisahkan karena mereka masih perjaka, sehingga bersama-sama membuat perjanjian untuk melepas keperjakaan mereka pada saat prom night. Seorang laki-laki atau perempuan dalam film-film semacam itu selalu digambarkan sebagai seorang yang malu-malu, gemetar, takut, terancam, rendah diri, dan ditertawakan, ketika mereka akhirnya bisa mengatakan: “I’m a virgin.” (Cat.: dalam bahasa Inggris, istilah virgin digunakan baik untuk laki-laki yang masih perjaka, maupun untuk perempuan yang masih perawan). Ungkapan ini selalu berarti: “Maaf, aku merasa malu sekali untuk mengakui dengan jujur bahwa aku belum pernah bersetubuh, aku belum pernah berhubungan seks.” Di sisi lain, film-film itu selalu menggambarkan seorang laki-laki atau perempuan yang merasa begitu terkejut, hampir tidak bisa percaya, sehingga kepada kekasihnya atau temannya yang baru saja mengakui keperawanan atau keperjakaannya secara spontan berkata: “What? Are you still a virgin.” Kita mungkin akan mengatakan: “Yang bener aja? Hari gini masih perawan/perjaka? Udah umur segitu belum pernah nge-seks?” Tahun 2005 yang lalu bahkan ada film berjudul The 40 Year Old Virgin!

Berbagai cerita porno pun beredar di internet. Seorang laki-laki yang sudah lebih berumur merasa begitu bangga karena bisa merayu dan meniduri seorang perempuan yang masih perawan. Laki-laki itu merasa bangga karena telah bisa memberikan keberanian kepada perempuan perawan itu untuk melepaskan keperawanannya. Demikian pula seorang perempuan dewasa merasa begitu berjasa telah “menolong” seorang laki-laki yang masih perjaka. Setelah segala rayuan dan “bimbingan,” akhirnya memang laki-laki itu menyerahkan keperjakaannya kepada perempuan itu. Apa pun istilahnya, entah itu “daun muda,” atau “brondong,” mereka ini dianggap sebagai pihak yang perlu ditolong dan diselamatkan. Maksudnya, mereka harus ditolong supaya bisa menjadi real woman atau real man dengan melepaskan keperawanan atau keperjakaan mereka.

Sementara itu di dalam budaya tertentu, seorang perempuan yang telah terlanjur kehilangan keperawanannya bisa menjadi begitu cemas kalau-kalau calon suaminya kelak tidak akan menerimanya sebagai istri. Tidak sedikit laki-laki yang akhirnya begitu saja merendahkan dan meninggalkan istri mereka setelah mengetahui bahwa istri mereka ternyata sudah tidak perawan pada saat malam pertama pernikahan mereka. Meskipun demikian, tidak sedikit pula laki-laki atau perempuan yang begitu cemas menjelang malam pertama mereka karena mereka belum pernah punya pengalaman. Calon suami takut kalau akan mengecewakan istrinya pada malam pertama. Calon istri takut kalau akan mengecewakan suaminya pada malam pertama. Jalan keluarnya? Lebih baik “belajar” dulu dengan pengalaman nyata sebelumnya. Artinya? Lebih baik sudah pernah punya pengalaman berhubungan seks terlebih dahulu supaya pada malam pertama tidak canggung lagi dan sama-sama bisa mendapatkan kepuasan yang tak terlupakan.

Contoh-contoh yang ada tentu saja masih bisa diperbanyak. Semua itu hanyalah sebagian kecil kenyataan yang secara jelas memperlihatkan betapa dunia kita ini, budaya di sekitar kita ini, propaganda-propaganda yang begitu gencar masuk ke dalam kesadaran kita memperlihatkan satu kenyataan yang begitu menyedihkan: ada sebuah kebingungan luar biasa tentang arti keperawanan! Is it a curse or is it a blessing? Keperawanan adalah sebuah kutuk atau sebuah berkat?

Ini semua perlu kita sadari ketika kita masuk ke dalam cerita dalam Injil Lukas tadi: “Dalam bulan yang keenam Allah menyuruh malaikat Gabriel pergi ke sebuah kota di Galilea bernama Nazaret, kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria” (Luk 1:26-27). Bila kita melanjutkan kisahnya, segera akan kita temukan kebenaran ini melalui perkataan malaikat: “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau” (Luk 1:28). Ucapan ini berarti: “Hai perawan, kamu sungguh dikaruniai, kamu sungguh diberkati oleh Tuhan!” Ayat ini saja sudah mengajak kita untuk bersuara dengan suara lantang kepada seluruh dunia, bahwa virginity is God’s blessing! Keperawanan atau keperjakaan bukanlah sebuah kutuk! Sebaliknya, keperawanan atau keperjakaan adalah berkat Tuhan. Jangan pernah percaya pada apa yang dikumandangkan oleh budaya di sekitar Anda!

Kita perlu berhenti sejenak di sini untuk melihat pengalaman menyedihkan dalam hidup putri Yefta. Dikisahkan bahwa Yefta bernazar kepada Tuhan akan mempersembahkan kepada Tuhan apa pun yang keluar pertama kali dari pintu rumahnya pada saat ia kembali setelah memenangkan perang. Betapa hancur hatinya ketika ternyata justru putrinyalah yang keluar pertama kali menyambut kedatangannya kembali. Supaya Yefta bisa tetap setia pada pada nazarnya, sang putri akhirnya bersedia untuk dipersembahkan sebagai korban bakaran. Maka ia pergi “menangisi kegadisannya” (lih. Hak 11:37). Pada akhir kisah disimpulkan bahwa “gadis itu tidak pernah kenal laki-laki” (Hak 11:39). Dua informasi ini bisa dikatakan demikian: “perempuan itu menangisi keperawanannya dan selama hidupnya ia tidak pernah bersetubuh dengan laki-laki.”

Perlu kita perhatikan secara teliti di sini. Dalam bahasa Ibrani, perkataan “mengenal” atau “mengetahui” (Ibrani: yadac) adalah sebuah ungkapan untuk menunjuk pada persetubuhan. Kita tahu bahwa Adam mengenal Hawa (Kej 4:1) dan dari tindakan mengenal itu Kain pun dikandung. Ungkapan yang sama dikatakan oleh Maria: “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum mengenal laki-laki [dalam versi terjemahan dikatakan: belum bersuami]?” (Luk 1:34). Artinya: bagaimana mungkin aku bisa mengandung bila aku tidak bersetubuh dengan seorang laki-laki pun?

Dalam arti inilah kita perlu memahami kisah putri Yefta yang menangisi keperawanannya. Ia tidak menangisi dirinya karena selama hidupnya belum pernah melakukan tindak persetubuhan. Ia menangisi dirinya karena keperawanannya ketika itu belum sampai pernah mengenal laki-laki. Maksudnya, ia menangis karena keperawanannya itu, yang disiapkan untuk menyambut seorang laki-laki, belum pernah dikenal oleh laki-laki mana pun. Ia menangis karena tubuhnya sebagai seorang perempuan belum pernah mengalami persatuan dengan tubuh laki-laki yang membuka diri bagi adanya kehidupan yang baru. Ia menangis bukan karena ia harus mati sebagai seorang perawan. Ia menangis karena dengan paksa, tanpa ia bisa memilih, kemungkinannya untuk menjadi penuh sebagai seorang ibu telah dipotong di tengah jalan. Singkatnya, kisah putri Yefta bukanlah sebuah dasar untuk mendukung propaganda dunia dan budaya di sekitar kita yang mengatakan: “Serahkan keperawanan atau keperjakaanmu, sebelum nanti terlambat, dan kamu akan menyesal seperti putri Yefta itu!”

Kita perlu berseru dengan lantang untuk melawan propaganda ini dengan menegaskan lagi dan lagi, bahwa keperawanan adalah berkat, bukan kutuk! Lebih tegas lagi, seluruh karya Allah yang ingin menyelamatkan manusia dan menebusnya, tidak akan pernah terjadi tanpa adanya seorang perawan. Dalam arti inilah kita bisa juga lebih jauh mengatakan, bahwa setiap saat seorang laki-laki atau seorang perempuan yang menjaga keperjakaan dan keperawanan masing-masing masuk ke kamar pengantin, pada saat itu pula ia mendengar kembali seruan agung: “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.” Sebagaimana dalam hidup Ibu Maria keperawanan menjadi pintu masuk bagi rahmat Allah yang membawa datangnya seorang Penyelamat, demikian pula keperjakaan dan keperawanan adalah pintu masuk bagi dilanjutkannya karya rahmat Allah demi penyelamatan seluruh dunia. So, please, please, please, stay virgin until your marriage. Dan kalau pun Anda sekarang sudah terlambat, jangan kuatir, selalu masih ada harapan. Mulailah mempersembahkan kepada Tuhan keperjakaan atau keperawanan rohani Anda (spiritual virginity), meskipun Anda telah kehilangan keperawanan jasmani (physical virginity). Setiap saat kita memandang Ibu Maria, kita diajak untuk mengaguminya justru karena ia adalah seorang perawan. Benar, there’s something about Mary, there’s something about her virginity.

Masih ada hal lain lagi. Kita lihat lagi apa yang dikatakan dalam Injil Lukas tadi: “Dalam bulan yang keenam Allah menyuruh malaikat Gabriel pergi ke sebuah kota di Galilea bernama Nazaret, kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria” (Luk 1:26-27). Urutan dalam informasi ini penting. Seolah seluruh sejarah manusia memang diarahkan untuk sampai kepada titik itu. Segala sesuatu direncanakan secara teliti dan seksama: bulan ke enam, malaikat Gabriel (yang berarti “Allah adalah kekuatanku”), provinsi Galilea, kota kecil Nazaret, garis keturunan Daud, seorang laki-laki bernama Yusuf, tunangannya adalah seorang perawan, perawan itu bernama Maria. Allah menanti saat yang tepat untuk memperlihatkan seluruh kekuatannya untuk melewati jarak waktu dan tempat agar bisa mendekati seorang perawan. Allah menanti saat yang tepat dan selama masa penantian itu Ia dengan seluruh kekuatannya memandang dengan penuh kekaguman seorang perawan di kota kecil yang tanpa arti itu. Apa artinya ini?

Kita perlu kembali ke Kitab Kejadian, ke saat paling awal ketika Allah menciptakan manusia. Kita tahu bahwa Allah menciptakan manusia menurut gambar dan rupanya, laki-laki dan perempuan. Ciptaan Allah dalam bentuk manusia itu secara istimewa adalah manusia yang bertubuh karena tubuh manusia itulah yang memperlihatkan kenyataan Allah yang tak terlihat. Laki-laki dan perempuan adalah gambar dan rupa Allah. Keduanya akan menjadi satu daging. Artinya, persatuan tubuh laki-laki dan tubuh perempuan adalah pengungkapan paling jelas kenyataan Allah yang tidak terlihat itu. Persatuan itu adalah persatuan antara dua pribadi. Keduanya telanjang tanpa malu karena keduanya bisa sungguh saling memandang sebagai pribadi. Setelah dosa, muncullah ketakutan dan rasa malu justru karena mereka telanjang. Artinya, cara mereka saling memandang sudah berubah. Mereka saling memandang sebagai objek pemuasan bagi diri sendiri.

Allah menanti sekian lama, dan memusatkan seluruh kekuatan-Nya untuk datang mendekat pada seorang perawan. Mengapa? Karena dalam diri perawan itulah Ia melihat adanya kemungkinan bagi sebuah permulaan yang baru. Dalam diri perawan itulah Allah melihat seorang pribadi yang masih bisa memiliki cara memandang yang asli sebagaimana ada pada awal mula manusia diciptakan. Dalam diri perawan itulah Allah menemukan tubuh perempuan yang merupakan sebuah pribadi yang bisa memandang tubuh laki-laki sebagai pribadi. Maria dikagumi karena ia bisa membuka kemungkinan bagi kembalinya cara pandang yang asli itu. Sebagaimana setelah dosa, cara saling memandang antara Adam dan Hawa berubah, demikian pula, sebagai tahap pemulihan segalanya itu Allah membutuhkan seorang pribadi manusia yang bertubuh yang masih bisa memandang tubuh manusia yang lain sebagai pribadi, sebagai subjek.

Ketika seorang laki-laki bersetubuh dengan seorang perempuan, sebagian dari tubuhnya masuk ke bagian tubuh perempuan untuk menaburkan benih di sana. Demikian pula halnya keperawanan Maria adalah keterbukaan total manusia bagi segala benih kebaikan Allah. “Keperawanan Maria memperlihatkan inisiatif mutlak dari Allah sendiri dalam peristiwa inkarnasi” (lih. Cathecism of the Catholic Church [CCC] No. 503). Keperawanan Maria – ia yang masih mampu memandang manusia lain dengan cara sebagaimana manusia pada awal diciptakan – menyiapkan kandungannya untuk menjadi ruang mahakudus bagi kehadiran Allah sebagaimana halnya ruang mahakudus di dalam Bait Allah. Meminjam sedikit penjelasan dari Christopher West, keperawanan Maria memperlihatkan bahwa rahimnya adalah ruang mahakudus (the holy of holies). Scott Hahn mengatakan bahwa rahim Maria adalah “tabut perjanjian” (ark of the covenant). Sebagaimana halnya tabut perjanjian dalam Perjanjian Lama memuat perjanjian antara Allah dan Israel yang tertuang dalam dua loh batu berisi sepuluh perintah Allah, demikian pula tabut perjanjian dalam Perjanjian Baru, rahim Maria, memuat perjanjian antara Allah dan manusia secara baru, yakni Yesus sendiri (lih. Scott Hahn, Hail, Holy Queen). Maka, tidak mengherankan, pada saat waktu penantian sudah usai, Allah dengan segala kekuatannya datang mendekat dan siap untuk masuk ke ruang mahakudus itu. Inilah maksudnya bahwa Roh Kudus dan kuasa Allah yang mahatinggi akan menaungi Maria. Anaknya akan disebut kudus karena berasal dari tempat yang mahakudus itu.

Itulah sebabnya, setiap persetubuhan antarmanusia adalah sebuah tindakan memasuki ruang mahakudus itu. Itulah sebabnya, liang senggama, adalah pintu masuk yang kudus untuk masuk ke ruang mahakudus itu. Kekudusan perjalanan masuk melalui pintu itu hanya akan terjadi jika itu merupakan ungkapan pemberian diri yang bebas, total, setia, dan berbuah. Persetubuhan adalah tindakan “mengenal” yang selalu berarti terbuka pada adanya “buah” yakni keturunan. Itu sebabnya Gereja dengan tegas terus mengingatkan kebenaran ini. Hubungan seksual adalah sebuah tindakan yang kudus, dan kekudusan ini hanya mungkin dirayakan bersama oleh seorang laki-laki dan seorang perempuan yang sudah menikah secara resmi, karena hanya merekalah yang sungguh bisa saling memberikan diri secara bebas, total, setia dan berbuah. Benar, there is something about Mary, there is something about her virginity.

Keyakinan akan keluhuran keperawanan Maria inilah yang membuat Gereja Katolik mempertahankannya secara teguh. Mereka yang sudah tidak bisa percaya lagi pada kebenaran ini dinyatakan dengan sendirinya terpisah dari kesatuan dengan Gereja Katolik. Inilah yang dikatakan oleh Konsili Konstantinopel (533) dalam anathema ke-3:

Jika seseorang tidak mengakui bahwa Allah Allah Sang Sabda dikandung dua kali, yang pertama sebelum segala abad dari Bapa, di luar waktu dan tanpa tubuh, yang kedua adalah pada masa akhir ketika Ia turun dari sorga dan menjadi daging melalui Maria yang kudus, mulia, pembawa Allah, tetap perawan, dan dilahirkan dari dia, biarlah orang ini anathema.

Saya ingin menyerukan kepada Anda. Mungkin salah satu sebab mengapa kita tidak berani mendekat kepada Ibu Maria adalah karena kita tidak berani menatap dengan penuh kekaguman kenyataannya sebagai seorang perawan. Anda kaum laki-laki, mungkin Anda tidak berani mendekat, karena bila Anda secara serius mendekat, cara Anda memandang diri Anda, dan terlebih cara Anda memandang setiap perempuan harus berubah. Anda kaum perempuan, mungkin Anda tidak berani mendekat, karena bila Anda secara serius mendekat, cara Anda memandang tubuh Anda pun harus berubah. Maria yang perawan itu menawarkan sebuah keindahan yang sungguh mengagumkan. Belum maukah Anda melihatnya dan mengijinkan rahmat Tuhan mengalir dari sana?

Maria sebagai ibu

Ketika akan membuat sebuah lompatan agak jauh. Setelah kita mendengar dari dekat apa yang terjadi pada saat awal sebelum Yesus dilahirkan, kita akan melihat satu peristiwa dalam hidup Yesus pada saat Ia sudah berkarya. Dalam suatu kesempatan pelayanan-Nya kepada orang banyak, ada seorang perempuan yang berseru kapda-Nya: “Berbahagialah ibu yang telah mengandung Engkau dan susu yang telah menyusui Engkau” (Luk 11:27). Terhadap ungkapan ini Yesus menjawab: “Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya” (Luk 11:28).

Berdasarkan pada seluruh kisah dalam Injil kita sudah bisa menjawab dengan pasti, bahwa Ibu Maria adalah seorang manusia yang dalam hidupnya selalu siap mendengarkan firman Allah dan memeliharanya. Jawaban Yesus tidaklah menolak kebenaran ungkapan seorang perempuan di dekat-Nya. Sebaliknya, jawaban Yesus itu semakin mempertegas kelebihan Ibu Maria. Yesus menyebut Ibu Maria berbahagia. Tidak hanya karena ibu Maria telah mengandung Yesus. Tidak hanya bahwa Ibu Maria telah menyusui Yesus. Lebih dari itu, mengandung dan menyusui adalah tindakan-tindakan Ibu Maria yang mendengarkan dan memelihara firman Tuhan. Maria disebut bahagia dalam ke-ibu-an (motherhood) yang diperlihatkannya secara nyata dengan tubuh manusianya.

Kita akan melihat ini sekarang. Dalam bagian pertama kita sudah secara tidak langsung menyinggung ke-ibu-an Maria dalam hubungan dengan keperawanan dan rahim yang akan mengandung. Maka kita tidak akan mengulang lagi bagian pertama ungkapan perempuan yang mengatakan “berbahagialah ibu yang telah mengandung Engkau.” Kita akan secara khusus melihat ke-ibu-an Maria melalui bagian kedua ungkapan itu “berbahagialah susu yang telah menyusui Engkau.”

Teks yang ada mengatakan: “Berbahagialah payudara yang telah menyusui Engkau” atau “Berbahagialah buah dada yang telah menyusui Engkau.” Perhatikan, tidak dikatakan di sini, “berbahagialah payudara milik perempuan yang telah menyusui Engkau,” melainkan “berbahagialah payudara yang telah menyusui Engkau.” Seolah bagian tubuh itu, payudara atau buah dada, secara khusus dilihat dan dinyatakan bahagia! Apa sebenarnya yang ingin ditegaskan di sini?

Seperti tadi, mari kita lihat dulu budaya di sekitar kita. Mengapa banyak laki-laki begitu terobsesi pada buah dada perempuan? Mengapa banyak laki-laki secara spontan akan mencuri pandang pada buah dada perempuan setiap kali ada kesempatan untuk itu? Jika ada seorang perempuan menunduk di depan Anda, kaum laki-laki, dan itu berarti ada sudut pandang terbuka, mengapa Anda, kaum laki-laki secara hampir refleks memanfaatkan kesempatan itu? Mengapa kaum laki-laki terpesona pada ukuran buah dada yang besar?

Mengapa banyak perempuan merasa rendah diri karena ukuran buah dadanya kecil? Mengapa di sana-sini sekarang ada banyak propaganda untuk memperbesar ukuran buah dada? Propaganda ini, bersama dengan propaganda pembesaran alat vital laki-laki, seolah bergerak dengan prinsip yang sama “the bigger, the better.” What’s the deal with women’s breasts? Dunia fashion pun tidak mau ketinggalan. Kalau pun tidak melakukan implantasi buah dada, masih ada yang bisa dilakukan: memberi kesan bahwa buah dada itu besar. Maka muncul model push-up bra, atau segala macam model untuk mengganjal agar buah dada terlihat besar.

Jennifer Lopez pernah menjadi berita besar ketika gaun yang dikenakannya untuk acara pemberian Oscar sangat banyak memperlihatkan bagian buah dadanya. Dalam resepsi pernikahan, banyak perempuan yang biasanya berpakaian sopan akan siap menggunakan gaun deep-cut yang memperlihatkan tidak hanya cleavage tapi sebagian besar dari buah dadanya.

Masih bisa kita lihat lagi yang lain. Di tempat-tempat terpencil di Papua atau di antara suku-suku asli Amerika Latin, perempuan masih terbiasa bertelanjang dada. Di Bali pun sampai beberapa puluh tahun terakhir pun masih serupa itu. Salah satu obsesi misi untuk memperkenalkan peradaban adalah memberi orang-orang itu pakaian. Artinya, mengajarkan kepada mereka bahwa buah dada perempuan harus ditutupi. Itulah tanda peradaban modern. Sungguh ironis justru di dalam peradaban modern justru perempuan ingin memamerkan buah dada mereka dan disebut sebagai tanda modernitas. Jadi, mana yang lebih beradab? Menutupi atau memperlihatkan buah dada? Ada apa dengan obsesi pada buah dada?

Seorang pemuda yang memberi boncengan pada seorang perempuan dengan mengendarai sepeda motornya akan segera merasakan sebuah getaran atau reaksi bila punggungnya merasakan segumpal daging lunak buah dada perempuan di belakangnya. Masih ada banyak contoh lagi bisa ditambahkan di sini. Yang ingin saya perlihatkan adalah ini: ada apa sebenarnya dengan segala macam yang berkaitan dengan buah dada perempuan?

Jika itu semua belum menjadi berita besar, masih ada lagi yang lebih menghebohkan. Apa yang sama yang dialami oleh Dewi Pesik dan Jeanette Jackson ketika berada di panggung dan segera menimbulkan kehebohan? Benar, buah dada mereka telah secara publik tanpa sengaja diperlihatkan kepada banyak orang? Apa artinya ini? Mereka sudah berpakaian seksi sebelumnya. Sudah ada sebagian dari buah dada mereka yang diperlihatkan secara sengaja. Lalu apa yang membuat heboh? Karena yang diperlihatkan tidak hanya cleavage, tidak hanya bentuk dan ukuran cup, tetapi puting susu mereka! Istilah nip-slip pun muncul untuk menunjuk sebuah “kecelakaan” atau “keteledoran” ketika seorang perempuan memperlihatkan puting susunya, nipple slip. Kadang saya merasa kasihan bila bertemu dengan seorang perempuan yang sengaja berpakaian seksi, tapi selalu sibuk menarik kembali gaunnya ke atas agar tidak melorot. Ada yang harus dilindungi: nipple. Mesin pencarian Google akan bisa memperlihatkan database berapa banyak ia diperintahkan untuk mencari foto atau video celebrity nip-slip. Bagi seorang perempuan “kecelakaan” atau “keteledoran” ini akan menimbulkan rasa malu yang luar biasa.

Maka pertanyaannya menjadi berubah. Bukan hanya tentang obsesi akan buah dada, tetapi secara khusus obsesi akan puting susu. Di banyak klinik sekarang tidak hanya ditawarkan operasi untuk mendapatkan the perfect breasts, tetapi juga the perfect nipples. Inilah propaganda dunia dan budaya di sekitar kita.

Jika demikian, kita sekarang harus mengatakan bahwa buah dada itu berkaitan dengan martabat perempuan, tetapi puting susu itu berkaitan dengan martabat ibu. Breast is about womanhood, nipple is about motherhood. Itulah sebabnya bagian yang itu harus tetap ditutupi. Tanda pada tubuh yang menunjuk langsung pada ke-ibu-an itu adalah sesuatu yang kudus, sakral, mulia. Kita tidak menyebutnya sebagai puting buah dada, atau puting payudara, melainkan puting susu. Persis di sini diperlihatkan sebuah kemuliaan, sebuah keindahan, sebuah keluhuran ke-ibu-an. The beauty, the glory, the splendor, the sacredness of motherhood bisa ditemukan di sana.

Keluhuran ke-ibu-an diperlihatkan dengan puting susu yang persis berperan sebagai titik kontak antara ibu dan bayi yang baru dilahirkan. Jika selama sembilan bulan ada saluran yang menyatukan antara tubuh ibu dan tubuh janin, setelah dilahirkan saluran itu harus diputuskan. Tahap selanjutnya, saluran yang menyatukan sebagian dari diri seorang ibu dengan bayinya adalah adalah puting susu. Maka sungguh menyedihkan bahwa untuk menjaga keindahan bentuk payudara beberapa ibu memilih untuk tidak menyusui sendiri bayi mereka secara langsung. Martabat ke-ibu-an diperlihatkan secara sangat nyata setelah kelahiran dalam tindakan menyusui.

Jika seorang janin berada maksimal sembilan bulan dalam kandungan ibunya, berapa lama seorang bayi menyusu pada ibunya? Ada banyak teori. Yang jelas, umumnya lebih dari sembilan bulan. Beberapa ibu bahkan harus melewati masa sulit ketika harus berusaha menghentikan bayinya dari menyusu. Bagi seorang bayi, pengalaman disapih bisa sangat menyedihkan pada awalnya. Mengapa? Seorang bayi sudah kehilangan kontak dengan ibunya sebagaimana ada selama ia masih dalam kandungan. Setelah dilahirkan, ia menemukan kembali kontak fisik yang begitu dekat, dan pada waktunya harus pula diputuskan. Setelah itu tidak akan pernah ada lagi kontak fisik semacam itu. Tidak akan pernah ada lagi sebagian dari dalam tubuh ibunya yang akan masuk ke dalam tubuhnya.

Semua kenyataan ini menyembunyikan sebuah kebenaran yang sungguh indah: “Berbahagilah buah dada yang menyusui Engkau!” Ini menunjuk kepada buah dada Ibu Maria yang menyusui Yesus. Dalam abad-abad yang lalu keindahan ini diperlihatkan secara jelas dalam banyak lukisan yang menggambarkan buah dada Ibu Maria dengan puting susunya yang terarah ke mulut bayi Yesus, atau bahkan berada di dalam mulut bayi Yesus. Breast is about womanhood, nipple is about motherhood. Belum lama ini bahkan Vatikan meminta supaya lukisan-lukisan yang secara tegas memperlihatkan keluhuran ke-ibu-an Ibu Maria semakin banyak dikenal oleh masyarakat luas.

Apa yang dikumandangkan di sini? Satu hal yang perlu kita ingat, adalah bahwa masing-masing dari kita berada dalam perjalanan menuju pemenuhan akhir persatuan abadi dengan Tuhan. Salah satu gambaran dalam Kitab Suci yang mempertegas hal ini secara jelas menggunakan gambaran tindakan menyusu. Bab terakhir Kitab Nabi Yesaya, yang merupakan bagian dari serangkaian seruan janji-janji indah Tuhan yang akan memulihkan bangsa Israel yang baru dipulihkan setelah pembuangan menggambarkan demikian:

Bersukacitalah bersama-sama Yerusalem, dan bersorak-soraklah karenanya, hai semua orang yang mencintainya! Bergiranglah bersama-sama dia segirang-girangnya, hai semua orang yang berkabung karenanya! Supaya kamu mengisap dan menjadi kenyang dari susu yang menyegarkan kamu, supaya kamu menghirup dan menikmati dari dadanya yang bernas. Sebab beginilah firman Tuhan: Sesungguhnya, Aku mengalirkan kepadanya keselamatan seperti sungai, dan kekayaan bangsa-bangsa seperti batang air yang membanjir; kamu akan menyusu, akan digendong, akan dibelai-belai di pangkuan (Yes 66:11-13).

Benar. Kita semua merindukan saat ketika masing-masing dipuaskan oleh cinta Allah seperti ketika kita masih bayi dipuaskan oleh ibu kita. Kita merindukan kembali pemuasan dengan menyusu pada Tuhan, sebagaimana dulu kita menyusu pada ibu kita masing-masing, atau siapa pun ibu yang menyusui kita.

Sisi yang lain diperlihatkan dalam Kidung Agung. Bila dipahami dalam arti simbolis, sang pemuda adalah Allah, sedangkan sang pemudi adalah manusia. Di dalam perkataan-perkataan mereka terkandung kerinduan untuk bertemu dan bersatu. Sang pemuda, simbol Allah sendiri berkata kepada sang pemudi, simbol kita semua demikian:

Betapa cantik, betapa jelita engkau, hai tercinta di antara segala yang disenangi. Sosok tubuhmu seumpama pohon korma dan buah dadamu gugusannya. Kataku: “Aku ingin memanjat pohon korma itu dan memegang gugusan-gugusannya. Kiranya buah dadamu seperti gugusan anggur dan nafas hidungmu seperti buah apel. Kata-katamu manis bagaikan anggur!” (Kid 7:6-9a).

Allah merindukan manusia, seperti seorang pemuda yang rindu untuk menjamah buah dada kekasihnya. Maka segala obsesi kita akan buah dada sebenarnya menyembunyikan sebuah kebenaran yang sangat luhur. Sayangnya kita sudah begitu mudah berhenti pada apa yang mudah terlihat. Sayangnya, karena dosa, cara laki-laki memandang buah dada perempuan sudah dinodai oleh hasrat untuk menjadikan buah dada perempuan itu objek pemuasannya. Sayangnya, karena tertipu oleh polesan budaya jaman ini, cara perempuan menghargai buah dadanya sendiri pun juga sudah ternodai. Di balik segala tipuan yang ada karena kita telah ternoda karena dosa, tersembunyi sebuah keindahan yang luar biasa. Obsesi kita akan buah dada perempuan sebenarnya menyuarakan kerinduan kita untuk bersatu dengan Tuhan sendiri. Obsesi kita akan buah dada perempuan sebenarnya menggemakan suara kekaguman Tuhan yang ingin bersatu dengan kita sebagai kekasih-Nya sendiri. Demikianlah, kita memiliki kerinduan untuk dipuaskan oleh cinta Tuhan sebagaimana halnya kita dipuaskan dengan menyusu pada ibu kita sendiri, Tuhan pun memiliki kerinduan untuk bersatu dengan kita sebagaimana halnya kerinduan seorang pemuda akan buah dada kekasih-Nya.

Apa artinya bagi kita sekarang bila kita mendekati Ibu Maria dan berseru kepadanya “Berbahagialah buah dadamu yang menyusui Yesus”? Kita mendekati Ibu Maria dengan kekaguman luar biasa akan ke-ibu-annya. Jika Anda memiliki pengalaman yang tidak indah bersama ibu Anda, dengan mendekat kepada Maria sebagai Sang Ibu sejati, akan ada sebuah aliran rahmat penyembuhan dalam hubungan Anda. Jika Anda ragu-ragu untuk menikah, pandanglah ke-ibu-an Maria, dan kagumilah keluhuran dan keindahan martabat panggilan sebagai seorang ibu. Jika Anda merasa rendah diri dengan keadaan tubuh Anda, pandanglah ke-ibu-an Maria dan lihatlah bahwa ada sebuah keindahan dalam diri Anda dengan segala keadaan tubuh Anda saat ini. Jika Anda termasuk orang yang cenderung menyombongkan diri karena keadaan tubuh yang bisa dibanggakan, pandanglah ke-ibu-an Maria, karena di sana juga ada sebuah keindahan. Jika Anda seorang laki-laki yang cenderung menjadikan tubuh perempuan sebagai objek pemuasan Anda, pandanglah ke-ibu-an Maria. Di sana Anda akan bertemu dengan the real woman, Sang Perempuan sejati yang akan mengajarkan kepada Anda bagaimana memperlakukan seorang perempuan dalam keindahan dan keluhuran martabatnya. Yes, there is something about Mary, there is something about her motherhood.

Maria: Sang Perawan dan Sang Ibu

Seperti dikatakan pada awal, kita tidak akan melihat segala macam hal tentang Maria. Hanya dua hal besar yang sebenarnya sungguh mempesona kita. Gereja sendiri pun juga senantiasa mendekati Maria dan mengagumi dua hal ini yang tak terpisahkan dalam seluruh karya Allah yang ingin menyelamatkan melalui Kristus dan Gereja-Nya. Konsili Vatikan II menghasilkan sebuah dokumen penting yang disebut sebagai Konstitusi Dogmatis tentang Gereja. Nama dokumen itu adalah Lumen Gentium (artinya, “Terang Bangsa-Bangsa”). Setelah dokumen tersebut berbicara tentang banyak hal, bagian akhir, bab 8, seolah disajikan sebagai puncak sekaligus menutup dokumen itu. Judul bab 8 itu berbunyi “Santa Perawan Maria Bunda Allah dalam Misteri Kristus dan Gereja.”

Salah satu bagian dalam dokumen itu secara jelas menggambarkan bahwa Gereja mau tidak mau harus terus kembali menatap kenyataan Maria sebagai “perawan” dan sebagai “ibu,” karena pada dasarnya dua hal yang sama itulah yang menjadi ciri dasar Gereja sendiri. Artinya, Gereja mengakui bahwa dirinya, selama sepanjang sejarah ingin senantiasa menjadi “perawan” dan “ibu” seperti Maria sendiri. Ini yang dikatakan dalam Lumen Gentium No. 64:

Ada pun Gereja sendiri – dengan merenungkan kesucian Santa Perawan yang penuh rahasia serta meneladan cinta kasihnya, dengan melaksanakan kehendak Bapa dengan patuh, dengan menerima sabda Allah dengan setia pula – menjadi ibu juga. Sebab melalui pewartaan dan baptis, Gereja melahirkan bagi hidup baru yang kekal-abadi putera-putera yang dikandungnya dari Roh Kudus dan lahir dari Allah. Gereja pun perawan, yang dengan utuh murni menjaga kesetiaan yang dijanjikannya kepada Sang Mempelai. Dan sambil mencontoh Bunda Tuhannya, Gereja dengan kekuatan Roh Kudus secara perawan mempertahankan keutuhan imannya, keteguhan harapannya, dan ketulusan cinta kasihnya.

Artinya, supaya Gereja bisa tetap hidup sebagai Gereja sebagaimana dikehendaki Allah, dan supaya Gereja bisa sungguh menjalankan rencana Allah sendiri bagi seluruh umat manusia, Gereja harus kembali kepada Maria sebagai “perawan” dan “ibu.” Jika demikian halnya dengan Gereja, hal yang sama berlaku untuk kita semua. Dengan kata lain, konsili Vatikan II pun mengatakan hal yang sama kepada kita semua: “There is something about Mary, there is something about her virginity, there is something about her motherhood.”

Lebih jauh lagi, judul Lumen Gentium bab 8 tidak hanya berkata tentang Maria secara terpisah, melainkan secara mendasar tak terpisah dari Kristus sendiri, “Santa Perawan Maria Bunda Allah dalam Misteri Kristus dan Gereja.” Maksudnya, dengan mendekati Maria sebagai Sang Perawan dan Sang Ibu, kita dibawa ke depan pintu masuk untuk masuk lebih jauh ke dalam misteri Kristus dan Gereja. Menurut Paulus, misteri ini adalah misteri Kristus sebagai mempelai laki-laki, dan Gereja sebagai mempelai perempuan. Demikian dikatakannya:

Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging. Rahasia ini besar, tetapi yang aku maksudkan ialah hubungan Kristus dan jemaat (Ef 5:31-32).

Kita diciptakan sebagai gambar dan rupa Allah, laki-laki dan perempuan yang bertubuh dengan segala bagiannya ini, dan digerakkan untuk menjadi satu daging. Kita menantikan saat perayaan perkawinan Anak Domba pada saat segalanya berakhir. Kita berada dalam masa antara Kitab Kejadian dan Kitab Wahyu.

Bingkai yang membuka pada bagian awal adalah kisah penciptaan manusia. Kitab Kejadian secara teliti dan indah menggambarkannya demikian:

Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka (Kej 1:27)…Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging (Kej 2:24)…

Tubuh manusia, dengan segala bagiannya yang utuh, sebagai laki-laki dan perempuan, berbicara secara lantang tentang peristiwa agung dalam sejarah ketika Allah menciptakan manusia menurut gambar-Nya sendiri. Karena Allah pada diri-Nya sendiri juga adalah kesatuan antarpribadi (Tritunggal Mahakudus), demikian pula gambar-Nya sendiri, manusia sebagai laki-laki dan perempuan, membawa dalam tubuhnya masing-masing panggilan dasar untuk merayakan kesatuan antarpribadi itu (perkawinan). Gerak ke arah kesatuan antarpribadi (atau, istilah dalam bahasa Latin communio personarum) menjadi rusak dan dibengkokkan dengan adanya dosa. Yesus datang sebagai penyelamat untuk meluruskan kembali kebenaran paling dasar itu.

Selanjutnya, bingkai yang membungkus bagian akhir, Kitab Wahyu, mengajak kita untuk merindukan saat ketika kita sebagai pengantian perempuan benar-benar bersatu dengan Kristus, Sang Anak Domba. Nama Kitab “Wahyu” diterjemahkan dari istilah bahasa Yunani apokalypsis, yang berarti “penyingkapan.” Pada masa kitab itu ditulis rangkaian upacara perkawinan bisa berlangsung hingga satu minggu penuh. Salah satu bagian penting dari rangkaian upacara itu adalah apokalypsis, penyingkapan. Ini terjadi pada saat pengantin laki-laki menyingkapkan cadar yang menutupi wajah pengantin perempuan. Hal ini dilakukan “tepat sebelum perkawinan yang disempurnakan dalam hubungan seksual” (lih. Scott Hahn, The Lamb’s Supper; versi Indonesia hlm. 150).

Penyingkapan ini juga membawa kita kembali ke peristiwa salib, pada saat ketika Yesus wafat. Tirai atau tabis Bait Allah terbelah. Sebuah penyingkapan besar terjadi. Tidak ada lagi batas antara ruang yang mahakudus yang sebelumnya hanya dikhususkan bagi para imam dan ruang yang lain dalam Bait Allah. Dengan kata lain, penyingkapan itu memungkinkan bahwa “surga dan bumi kini dapat berpelukan dalam kasih mesra” (Scott Hahn, The Lamb’s Supper; versi Indonesia hlm. 151). Inilah yang kita temukan dalam Kitab Wahyu:

Marilah kita bersukacita dan bersorak-sorai, dan memuliakan Dia! Karena hari perkawinan Anak Domba telah tiba, dan pengantin-Nya telah siap sedia. Dan kepadanya dikaruniakan supaya memakai kain lenan halus yang berkilau-kilauan dan yang putih bersih!” [Lenan halus itu adalah perbuatan-perbuatan yang benar dari orang-orang kudus] (Why 19:7)… Roh dan pengantin perempuan itu berkata: “Marilah!” (Why 22:17)…

Itulah kerinduan kita semua. Jadi, kerinduan untuk membentuk kesatuan antarpribadi yang sejak awal direncanakan oleh Allah, dan kemudian rusak oleh dosa, dan dipulihkan oleh Yesus dengan wafat di salib, adalah kerinduan kita semua pada akhir. Itu sudah melekat pada keadaan diri kita yang bertubuh, laki-laki dan perempuan.

Dengan memilih judul bab 8 sebagai “Santa Perawan Maria Bunda Allah dalam Misteri Kristus dan Gereja,” dokumen Lumen Gentium dari Konsili Vatikan II itu memberi undangan yang sungguh indah bagi kita semua. Kita hidup sebagai Gereja Sang Mempelai Perempuan yang dicintai oleh Kristus Sang Mempelai Laki-Laki. Bila orang yang percaya kepada Kristus menolak untuk memandang dengan penuh kekaguman pada Maria, dokumen tadi secara tegas mengatakan: “Anda sebenarnya belum sungguh mengenali diri Anda sendiri, dari mana Anda berasal, dan ke mana Anda sedang melangkah!”

Maka, dengan mendekati Maria sebagai perawan dan ibu, kita diajak lebih dalam untuk mengenal siapa diri kita sebenarnya dan bagaimana kita harus hidup. Bila kita menghindar dari Maria, kita menghindar dari kenyataan diri kita yang terdalam, sejak kita diciptakan oleh Allah sebagai gambar dan rupa-Nya, hingga gerak kita menuju pernikahan agung dengan Sang Anak Domba sendiri. Selama tahun-tahun terakhir bahkan muncul kesadaran di kalangan saudara-saudari Kristen non-Katolik untuk memberi perhatian kepada Maria, karena mereka tidak mau kehilangan bagian dari berkat yang telah diberikan oleh Tuhan sendiri kepadanya. Bila mereka tidak mau kehilangan berkat melalui itu, Anda tentu juga tidak mau kehilangannya dengan menghindar dari Maria. Bila kita menghindar dari Maria, kita menghindar dari jalan utama dan pasti ke arah persatuan kita dengan Sang Anak Domba dalam kehidupan abadi.

Yes, there is really something about Mary, virgin and mother!

Jakarta, 11 Oktober 2008

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!