Halo semua!
Berikut ini bahan yang saya bawakan pada saat seminar “Mengapa Yesus (Tidak) Disalibkan?” Tentu saja tidak langsung berkaitan dengan tema blog ini yang memusatkan perhatian pada Teologi Tubuh yang diajarkan Yohanes Paulus II. Meskipun demikian, seperti akan terlihat, ajaran Teologi Tubuh terasa gemanya dalam pendekatan terhadap persoalan yang sedang dibahas. Bahan tersebut juga mengandaikan adanya pemahamam umum tentang sejarah terbentuknya kanon Kitab Suci Perjanjian Baru. Hal ini sudah saya bahas dalam buku saya Menguak Injil-Injil Rahasia (Kanisius, 2007). Selamat membaca!
Deshi Ramadhani, SJ
====
Mengapa Yesus (Tidak) Disalibkan?
Sebuah Awal Penelitian
Aula Gereja St. Yakobus, Kelapa Gading, Jakarta, 16 November 2008
Deshi Ramadhani, SJ
STF Driyarkara, Jakarta
Pengantar: merumuskan pertanyaan
Dalam liturgi Gereja Katolik Roma, bulan November dikhususkan sebagai bulan untuk menghormati para arwah. Selama bulan ini kita secara khusus mengenang dan mendoakan mereka. Dalam rumusan Doa Syukur Agung II kita memiliki rumusan doa untuk arwah sebagai berikut: “…Ia telah menjadi serupa dengan Dia dalam kematian; semoga kini ia menjadi serupa pula dengan Dia dalam kebangkitan.” Kita mengenang mereka yang sudah meninggal dalam iman kita bahwa mereka telah “menjadi serupa” dengan Kristus dalam kematian. Terpisah dari kematian Kristus sendiri, kita tidak memiliki dasar yang kokoh untuk bisa memahami kematian orang-orang yang kita kasihi itu, dan tentu saja kematian kita bila saatnya tiba. Kematian Kristus tak terpisahkan dari kebangkitan-Nya. Demikian pula, kematian kita tak bisa dilepaskan dari kebangkitan kita bersama Kristus.
Berdasarkan tulisan-tulisan dalam Kitab Suci Perjanjian Baru, kita mengetahui bahwa Yesus mengalami kematian dengan cara yang sangat mengenaskan: digantung pada kayu salib. Masing-masing Injil menyajikan kisah penyaliban dan kematian Yesus menurut sudut pandang yang khas. Pandangan dan ajaran Paulus tentang penyaliban Yesus pun juga memiliki kekhasan tersendiri. Dalam tulisan-tulisan tersebut tidak ada keraguan sedikit pun bahwa Yesus sungguh telah disalibkan dan wafat pada saat Ia masih tergantung pada kayu salib. Pertanyaannya adalah: “Mengapa Yesus disalibkan?”
Keempat Injil sudah selesai ditulis pada akhir abad pertama Masehi. Beberapa tulisan yang muncul sejak abad ke-2 menyajikan kisah yang berbeda. Salah satu perbedaan besar terletak pada kisah-kisah tentang penyaliban. Dengan beberapa variasi, tulisan-tulisan tersebut mengisahkan bahwa Yesus tidak sungguh-sungguh disalibkan. Orang yang tergantung dan mati pada kayu salib bukanlah Yesus, melainkan orang lain. Maka, pertanyaannya adalah: “Mengapa Yesus tidak disalibkan?”
Dua pertanyaan itulah yang ingin kita soroti bersama. Untuk tahap awal ini kita ingin mendekatinya terutama dari sudut kronologi sejarah munculnya kisah-kisah semacam itu. Latar belakang munculnya kisah-kisah tersebut akan bisa memberi terang bagi pemahaman kita terhadap penyaliban. Bila ingin dirumuskan kembali secara lengkap, judul bahan yang kita bicarakan ini adalah: “Mengapa muncul kisah-kisah tentang Yesus yang disalibkan dan kisah-kisah tentang Yesus yang tidak disalibkan?”
Bahan yang ditawarkan di sini adalah bagian dari tahap awal sebuah penelitian. Dalam arti tertentu, bahan ini adalah lanjutan atau pendalaman lebih jauh atas salah satu pokok yang sudah diangkat dalam buku saya, Menguak Injil-Injil Rahasia.[1] Banyak hal yang akan dikatakan di sini mengandaikan bahan-bahan yang sudah tersaji dalam buku tersebut. Selain itu, perlu juga ditekankan di sini, bahwa pembicaraan kita di sini tidak dimaksudkan sebagai sebuah studi perbandingan tradisi-trasidi agama-agama yang berbeda. Kita ingin menjadikan pembicaraan kita di sini sebagai sebuah studi bersama atas sejarah Kekristenan pada abad-abad pertama pertumbuhannya.
Kitab Suci Perjanjian Baru: Yesus disalibkan
Injil mengsisahkan bahwa Yesus sendiri secara sadar berbicara tentang penderitaan dan kematian-Nya. Meskipun pemberitahuan ini dilakukan beberapa, para murid tidak begitu saja memahaminya. Setelah pengakuan Petrus bahwa Yesus adalah Mesias (Mrk 8:29), Yesus segera berbicara tentang penderitaan dan kematian-Nya: “Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan bangkit sesudah tiga hari” (Mrk 8:31). Dalam kesempatan kedua Yesus berkata: “Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia, dan mereka akan membunuh Dia, dan tiga hari sesudah Ia dibunuh Ia akan bangkit” (Mrk 9:31). Pemberitahuan ketiga memuat informasi yang lebih rinci: “Sekarang kita pergi ke Yerusalem dan Anak Manusia akan diserahkan kepada imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, dan mereka akan menjatuhi Dia hukuman mati. Dan mereka akan menyerahkan Dia kepada bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, dan Ia akan diolok-olokkan, diludahi, disesah dan dibunuh, dan sesudah tiga hari Ia akan bangkit” (Mrk 10:33-34).
Injil Matius pada umumnya mengikuti Injil Markus. Meskipun demikian, pada pemberitahuan yang ketiga secara lebih tegas dikatakan bahwa Yesus sadar bahwa Ia akan “diolok-olokkan, disesah dan disalibkan” (Mat 20:19). Sementara itu, Injil Lukas mengikuti pula Injil Markus, seraya terus-menerus memberi gambaran jelas bahwa Yesus dengan sadar “berjalan menuju Yerusalem.” Ketika Yesus diperingatkan akan bahaya kematian itu, Ia justru berkata: “Tetapi hari ini dan besok dan lusa Aku harus meneruskan perjalanan-Ku, sebab tidaklah semestinya seorang nabi dibunuh kalau tidak di Yerusalem” (Luk 13:33).
Kelak setelah kebangkitan, kedua murid yang berjalan menuju Emaus merangkum hidup Yesus dengan mengatakan demikian:
Apa yang terjadi dengan Yesus orang Nazaret. Dia adalah seorang nabi, yang berkuasa dalam pekerjaan dan perkataan di hadapan Allah dan di depan seluruh bangsa kami. Tetapi imam-imam kepala dan pemimpin-pemimpin kami telah menyerahkan Dia untuk dihukum mati dan mereka telah menyalibkan-Nya. Padalah kami dahulu mengharapkan, bahwa Dialah yang datang untuk membebaskan bangsa Israel. Tetapi sementara itu telah lewat tiga hari, sejak semuanya itu terjadi. Tetapi beberapa perempuan dari kalangan kami telah mengejutkan kami: Pagi-pagi buta mereka telah pergi ke kubur, dan tidak menemukan mayat-Nya. Lalu mereka datang dengan berita, bahwa telah kelihatan kepada mereka malaikat-malaikat, yang mengatakan, bahwa Ia hidup. Dan beberapa teman kami telah pergi ke kubur itu dan mendapati, bahwa memang benar yang dikatakan perempuan-perempuan itu, tetapi Dia tidak mereka lihat (Luk 24:19-24).
Jawaban Yesus kepada mereka pun sangat tegas: “Hai kamu orang bodoh,…Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya?” (Luk 24:25-26). Ini menggemakan seluruh isi pemberitahuan tentang penderitaan dan kematian Yesus: Anak Manusia akan mati dibunuh, seorang nabi besar akan mati di kayu salib. Artinya, seorang pembebas yang dinanti-nantikan akan mati konyol tergantung pada kayu salib, tetapi justru dengan itulah ia melaksanakan tugasnya.
Keyakinan dan ajaran Paulus pun memperlihatkan keyakinan yang sama. Ia “memberitakan Kristus yang disalibkan” (1Kor 1:23). Bagi Paulus, inilah hal yang penting yang tidak boleh luput dari keyakinan orang yang percaya: “Sebab aku telah memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa di antara kamu selain Yesus Kristus, yaitu Dia yang disalibkan” (1Kor 2:4).
Keempat Injil mengisahkan peristiwa yang menghebohkan di Bait Allah ketika Yesus masuk dan membersihkannya dari segala macam hal yang telah mengotori tempat suci itu. Meskipun demikian dalam Injil Yohanes kita memiliki informasi penting tentang percakapan antara Yesus dan orang-orang yang hadir di sana. Ketika ditanya tentang tanda yang bisa membenarkan tindakan-Nya itu, Yesus menjawab: “Rombak Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali” (Yoh 2:19). Mereka tidak mengerti arti pernyataan itu. Penginjil kemudian secara jelas memberi catatan: “Tetapi yang dimaksudkan-Nya dengan Bait Allah ialah tubuh-Nya sendiri” (Yoh 2:21).
Dari sini terlihat bahwa “Yesus yang disalibkan” secara lebih eksplisit berarti “tubuh Yesus yang disalibkan.” Tubuh yang disalibkan itu kemudian juga dibangkitkan pada hari yang ketiga. Perhatian eksplisit pada tubuh Yesus yang tersalib itu ditekankan dalam ayat berikut ini: “Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh” (1Ptr 2:24).
Maka, kita bisa juga bisa mengatakan pernyataan “Anak Manusia atau nabi besar yang disalibkan” secara lain sebagai “tubuh Anak Manusia atau tubuh nabi besar yang disalibkan.” Artinya, bila kebangkitan tak bisa dipisahkan dari kematian, dan bila kematian tak terpisahkan dari salib, lebih tegas lagi, salib tak bisa dilepaskan dari tubuh manusia yang mati tergantung pada salib itu.
Ini bisa terlihat secara lebih jelas lagi bila dibandingkan dengan kisah tentang perempuan yang meminyaki Yesus. Penjelasan Yesus secara jelas menghubungkan tindakan itu dengan tubuh-Nya sendiri: “Tubuh-Ku telah diminyakinya sebagai persiapan untuk penguburan-Ku” (Mrk 14:9). Lebih tegas lagi Yesus melanjutkan: “Sesungguhnya di mana saja Injil diberitakan di seluruh dunia, apa yang dilakukannya ini akan disebut juga untuk mengingat dia” (Mrk 14:20).
Sekali lagi, pengakuan akan Yesus yang sungguh disalibkan senantiasa berarti pengkuan akan Yesus yang sebagai manusia sungguh-sungguh memiliki tubuh manusia sebagaimana halnya kita semua.
Penolakan terhadap kebertubuhan Yesus
Perjalanan Kekristenan sejak abad ke-2 Masehi diwarnai oleh perjumpaan dengan Gnostisisme. Aliran atau paham ini tidaklah merupakan satu hal tunggal yang seragam di mana-mana. Dalam Menguak Injil-Injil Rahasia saya mengikuti pandangan umum para ahli tentang Gnostisisme, dan merangkumnya demikian:
Gnostisisme mengajarkan bahwa dunia material adalah produk dari kekuatan-kekuatan jahat. Jiwa adalah percikan-percikan ilahi yang kemudian terpenjara dalam dunia material. Karena terpenjara dalam dunia material inilah manusia akhirnya menjadi budak-budak dari daya-daya kosmik yang sangat berkuasa. Manusia tunduk pada penguasa-penguasa alam (archon). Pembebasan terjadi kalau percikan ilahi dalam diri manusia itu membebaskan diri dari penjara dunia material.[2]
Dunia material yang menjadi penjara bagi percikan ilahi itu tidak lain adalah tubuh manusia. Tegasnya, dalam Gnostisisme tubuh manusia dipahami sebagai sebuah kenyataan yang harus dilawan karena di sanalah terlihat paling jelas bentuk ungkapan dari kekuatan jahat. Konsekuensinya, Gnostisisme harus bisa menemukan jalan untuk menjelaskan tentang hidup Yesus yang bertubuh. Dengan kata lain, mereka yang mengikuti paham ini harus berhadapan dengan pertanyaan besar: “Jika tubuh adalah kekuatan jahat, bagaimana orang harus memahami tubuh Yesus?”
Karena dunia material dianggap jahat, Pencipta dunia material pun dianggap jahat. Atau, setidaknya, Allah Pencipta sebagaimana dikisahkan dalam Kitab Kejadian adalah Allah yang tingkatannya lebih rendah. Maka secara lebih luas Gnostisisme memandang Allah dalam Perjanjian Lama sebagai Allah yang jahat. Akibatnya, Yesus dalam Perjanjian Baru dipandang sebagai yang berbalikan dengan itu. Yesus Kristus adalah Allah yang baik, yang tingkatannya lebih tinggi daripada Allah dalam Perjanjian Lama.
Salah satu tokoh yang berpengaruh dalam Gnostisisme adalah Valentinus.[3] Ia mengakui bahwa Yesus adalah Sang Penebus. Baginya, Yesus adalah ilahi. Artinya, Yesus adalah Allah yang baik yang menampakkan diri kepada manusia dengan maksud agar Ia bisa menuntun manusia kembali ke yang ilahi. Persoalan besar lalu muncul pada titik ini. Jika Yesus itu adalah Allah yang baik, Ia tidak akan bercampur dengan dunia material yang jahat. Konsekuensinya, Allah yang baik itu tidak akan pernah membiarkan Diri-Nya terpenjara dalam tubuh manusia, karena tubuh manusia itu adalah kekuatan jahat. Mengakui bahwa Allah mengambil bentuk dalam tubuh manusia berarti mengakui bahwa kekuatan kebaikan Allah itu dikurung oleh kekuatan jahat dunia material. Bila ini diikuti, Valentinus harus bisa menjelaskan secara lebih tegas, karena ia pun tahu bahwa kisah-kisah dalam Injil yang sudah beredar ketika itu mengatakan bahwa Yesus itu sungguh terlihat secara ragawi. Maka Valentinus harus menjelaskan arti dari Yesus yang terlihat hadir dengan tubuh manusiawi di hadapan orang banyak yang mengenal-Nya.
Valentinus mengatakan bahwa orang-orang itu belum memiliki pengetahuan istimewa (gnosis) yang memberi pencerahan. Mereka yang merasa telah sungguh melihat Yesus hadir secara ragawi sebenarnya telah mengalami “tipuan pandangan” (optical illusion).[4] Karena tipuan pandangan semacam itulah mereka merasa sungguh melihat Yesus secara nyata hadir sebagai manusia yang bertubuh. Valentinus menegaskan bahwa tubuh Yesus sebenarnya hanyalah sebuah “tampilan” atau “tampakan” (appearance atau apparition). Ajaran ini kemudian dikenal sebagai “doketisme.”
Tokoh lain yang sangat berpengaruh muncul pada abad ke-3. Ia bernama Mani. Karena namanya itulah ajarannya dikenal sebagai Manikeisme. Dualisme dalam ajaran Mani lebih radikal. Baginya, ada dua Allah yang sama kuat. Yang satu adalah Allah terang, yang lain adalah Allah kegelapan. Mereka saling berperang. Allah terang menciptakan dunia spiritual, sedangkan Allah gelap menciptakan dunia material. Dalam peperangan itu dunia spiritual senantiasa menjadi incaran dari dunia material yang akan melahapnya. Proses pembebasan tidak lain adalah pembebasan dunia spiritual dari dunia material yang jahat. Untuk melakaukan pembebasan itu Allah terang terus-menerus mengirim utusannya.
Manikeisme memandang segala hal yang berkaitan dengan dunia material sebagai hal yang sangat jahat. Ajaran ini tidak lagi memandang adanya percikan ilahi dalam tubuh manusia (sebagaimana halnya dalam Gnostisisme), melainkan memandang tubuh sebagau sungguh jahat. Para pengikut aliran ini bahkan dilarang untuk melakukan persetubuhan, karena itu berarti bersatunya tubuh yang pada dasarnya jahat. Mereka bahkan dilarang untuk bisa menikmati makan dan minum, karena sekali lagi, itu semua berkaitan dengan pemuasan tubuh yang pada dasarnya sungguh jahat. Manikeisme mengajarkan sebuah pembebasan total dari segala dunia material selama hidup di dunia.
Konsekuensinya bagi pemahaman akan Yesus sangatlah jelas: Yesus Kristus tidak sungguh memiliki tubuh. Tidak mungkin Yesus sungguh memiliki tubuh, karena Ia tidak mungkin dipenjara dalam dunia material yang jahat. Dengan kata lain, meskipun Manikeisme bergerak dalam arah yang lebih radikal daripada Gnostisisme, ketika mereka harus berhadapan dengan kenyataan Yesus yang hidup sebagai manusia, mereka sepakat: Yesus tidak sungguh bertubuh. Dengan sudut pandang semacam ini juga menjadi jelas bahwa bagi aliran-aliran ini tidaklah mungkin berbicara tentang penyaliban tubuh sebagai satu hal yang baik.
Tulisan-tulisan non-kanonik: Yesus tidak disalibkan
Menurut The Second Treatise of the Great Seth, Yesus sendiri bercerita tentang peristiwa penyaliban itu:
[…] Tetapi aku sama sekali tidak didera. Mereka yang hadir di sana menghukum Aku. Dan Aku dalam kenyataannya tidaklah mati, melainkan dalam tampakan, supaya Aku tidak mereka permalukan karena mereka adalah kaum-Ku sendiri. Aku menyingkirkan malu dari Diri-Ku dan Aku tidak berkecil hati berhadapan dengan apa yang terjadi pada-Ku di tangan mereka. Aku hampir menyerah pada rasa takut, dan Aku [menderita] menurut penglihatan dan pemikiran mereka, agar mereka tidak pernah menemukan satu kata pun untuk berbicara tentang mereka. Karena kematian-Ku yang mereka kira telah terjadi, sesungguhnya telah terjadi bagi mereka dalam kekeliruan dan kebutaan, karena mereka telah memakukan orang mereka sendiri ke kematian mereka. Karena Ennoias mereka tidak melihat Aku, karena mereka tuli dan buta. Tetapi dalam melakukan hal-hal ini, mereka menghukum diri mereka sendiri. Ya, mereka melihat Aku; mereka menghukum Aku. Itu adalah orang lain, ayah mereka sendirilah yang telah minum anggur asam, bukan Aku. Mereka memukul Aku dengan sebuah tongkat; itu adalah orang lain, Simon, yang memikul salib-Ku pada bahu-nya. Orang lainlah yang mereka kira sebagai Diriku dan ke atas kepalanya mereka meletakkan mahkota duri. Tetapi aku bersuka cita dalam ketinggian melampaui segala kekayaan pada archon dan keturunan kesalahan mereka, kemuliaan kosong mereka. Dan Aku menertawakan ketidak tahuan mereka […] Karena Aku mengubah bentuk Diriku, dari satu wujud ke wujud lain […].
Di sini jelas terlihat pengaruh paham Gnostisisme dalam bentuk yang lebih khusus sebagai Doketisme. Yesus tidak sungguh hadir dengan tubuh-Nya, karen pada dasarnya Yesus memang tidak pernah sungguh-sungguh memiliki tubuh manusia seperti manusia-manusia lain. Karena itulah ia bisa mengubah “tampilan” atau “tampakan” Diri-Nya sesuka hati. Tidak ada orang yang tahu, karena tidak ada yang telah mendapat pengetahuan rahasia (gnosis).
Ireneus, seorang Bapa Gereja yang dengan gencar berjuang melawan berbagai kesesatan dalam Gereja memberi penjelasan tentang ajaran Gnostik menurut Basilides. Demikian dikisahkan oleh Ireneus (catatan 24.4):
24.4 […] Ia tampak di dunia sebagai seorang manusia kepada para pengikut archon dan membuat mukjizat-mukjizat. Konsekuensinya, Ia tidaklah menderita, tetapi seorang Simon dari Kirene telah ditempatkan untuk melayani dan memikul salibnya untuk Dia, dan dialah yang disalibkan karena ketidak tahuan dan kekeliruan, yang telah diubah bentuknya oleh Dia agar ia dianggap Yesus. Sedangkan Yesus sendiri, Ia mengambil bentuk tampakan Simon dan berdiri di dekat untuk menertawakan para archon. Karena Dia adalah kuasa tak bertubuh dan pikiran dari Bapa yang tak dilahirkan, Dia mengubah bentuk diri-Nya sekehendak-Nya, dan dengan cara inilah Ia naik kepada Dia yang telah mengutus-Nya, sambil menertawakan mereka karena Dia tidak bisa ditahan dan tak terlihat bagi semua. Mereka yang telah mengetahui ini telah dibebaskan dari para archon pembuat dunia. Orang harus tidak mengakui seseorang yang disalibkan, tetapi seseorang yang datang dalam bentuk insani, tampak disalibkan, disebut sebagai Yesus, dan diutus oleh Bapa untuk menghancurkan karya-karya para pembuat dunia dengan rencana ini. Jika seseorang mengakui Sang Tersalib, katanya, ia masih seorang budak dan di bawah kekuasaan dari mereka yang telah menjadikan tubuh-tubuh; tetapi ia yang menyangkalnya dibebaskan dari mereka dan mengetahui rencana dari Bapa yang tidak dilahirkan.
24.5: Keselamatan hanyalah untuk jiwa; tubuh menurut kodratnya dapat binasa. […]
Bagian terakhir menurut catatan Ireneus ini penting untuk kita perhatikan. Ada dua hal. Pertama, mereka yang mengakui bahwa Yesus sungguh telah disalibkan adalah orang-orang yang mesih berasa dalam kekuasaan kekuatan jahat dunia material. Kedua, dalam keselamatan atau proses penyelamatan, yang terlibat hanyalah jiwa, sedangkan tubuh tidak diikutsertakan, karena memang sudah ditetapkan untuk binasa sebagaimana halnya berlaku bagi setiap kekuatan jahat dunia material.
Simon dari Kirene, yang dalam Injil dikisahkan sebagai orang yang membantu memikul salib Yesus ternyata justru bernasib buruk. Tanpa diduga-duga ia sendirilah yang akhirnya disalibkan, sementara orang yang menyalibkannya tetap merasa yakin bahwa yang ia adalah Yesus. Hal serupa juga dikisahkan dalam variasi kisah serupa. Salah satu kecenderungan yang muncul dalam variasi tersebut adalah menghadirkan tokoh Yudas sebagai orang yang disalibkan.
Demikianlah secara singkat kita bisa melihat adanya variasi dalam tulisan-tulisan non-kanonik. Siapa sebenarnya yang disalibkan? Simon atau Yudas? Jika ada inkonsistensi dalam tulisan-tulisan tersebut, satu hal yang sama adalah bahwa siapa pun orangnya, orang itu memainkan peran untuk menggantikan Yesus. Secara positif bisa dilihat, bahwa tulisan ini ingin membela Yesus sebagai Allah yang baik. Dengan kata lain, untuk membela keilahian Yesus, kisah-kisah ini tidak “mengijinkan” Yesus terkurung dalam tubuh yang adalah bentuk paling nyata dari dunia material yang jahat. Artinya, demi keilahian Yesus, tulisan-tulisan ini lebih memilih untuk “mengorbankan” kemanusiaan Yesus. Menurut tulisan-tulisan ini, Yesus bukanlah sungguh manusia.
“Inilah Tubuh-Ku”
Menurut tulisan-tulisan non-kanonik, tubuh adalah jahat. Tubuh adalah bentuk paling nyata dari dunia material yang jahat. Lebih radikal lagi, menurut Manikeisme, segala hal yang berkaitan dengan tubuh adalah jahat. Satu hal yang tidak begitu diperhatikan (atau bahkan dilalaikan sama sekali) adalah kenyataan bahwa peristiwa penyaliban Yesus bukanlah sebuah peristiwa yang berdiri sendiri. Dalam Kitab Suci seluruh kisah sengsara Yesus hingga wafat-Nya pada kayu salib dibuka dengan sebuah kisah tentang perjamuan terakhir.
Sebuah peristiwa penting terjadi ketika Yesus berkata: “Ambillah, inilah tubuh-Ku” (Mrk 14:22). Paulus mengisahkannya dengan penjelasan tambahan: “Inilah tubuh-Ku, yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku!” (1Kor 11:24). Injil Yohanes tidak mengisahkan ini. Dalam perjamuan terakhir menurut Yohanes dikisahkan sebuah peristiwa penting yang berbeda, yakni pembasuhan kaki. Para ahli umumnya berpendapat bahwa kisah tentang “ekaristi” disajikan secara berbeda oleh Yohanes di dalam bab 6. Dalam kotbah Yesus tentang roti hidup itulah kita mendengar secara jelas gema perjamuan terakhir. Yesus berkata:
Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu adalah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia… Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman. Sebab daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia (Yoh 6:51, 54-55).
Dalam hubungan erat dengan perjamuan terakhir, saat Yesus disesah, dan terlebih lagi saat Ia wafat tergantung pada kayu salib, adalah saat di mana Yesus mengatakan secara lebih jelas, dengan seluruh kenyataan tubuh-Nya: “Inilah tubuh-Ku.” Segi inilah yang terlewatkan dalam tulisan-tulisan non-kanonik. Bila melihat kecenderungan dalam tulisan-tulisan itu untuk memandang tubuh sebagai yang jahat, ucapan Yesus “Inilah tubuh-Ku” semakin tidak bisa diterima. Allah yang baik tidak akan mungkin memberikan tubuh, karena tubuh itu adalah jahat. Bagaimana mungkin sesuatu yang jahat diberikan oleh Allah yang baik dengan maksud untuk menyelamatkan manusia?
Penyaliban Yesus?
Demikianlah telah kita lihat, bahwa pertanyaan kita, “Mengapa Yesus (Tidak) Disalibkan?” mendesak kita untuk terlebih dahulu memilih apakah kita menerima Yesus sebagai yang sungguh bertubuh atau tidak. Dengan kata lain, pilihan ini adalah pilihan menentukan antara keutuhan kemanusiaan di satu pihak, dan keilahian Yesus di lain pihak. Tulisan non-kanonik tidak mengisahkan Yesus yang disalibkan, karena ingin mempertahankan keilahian Yesus. Sementara itu Kitab Suci mengisahkan Yesus yang disalibkan, karena ingin memperlihatkan Yesus dalam keutuhan kemanusiaan-Nya karena hanya dengan itulah Ia bisa membawa serta seluruh manusia yang ingin diselamatkan-Nya. Lebih jauh lagi, mengakui Yesus dalam keutuhan kemanusiaan-Nya berarti mengakui kebenaran bahasa ekaristik dalam penyaliban Yesus. Tanpa perjamuan terakhir penyaliban Yesus sungguh tak akan bisa dipahami.
9 November 2008
[1] Deshi Ramadhani, Menguak Injil-Injil Rahasia (Yogyakarta: Kanisius, 2007).
[2] Ramadhani, Menguak Injil-Injil Rahasia, hlm. 36-37.
[3] Untuk penjelasan yang lebih panjang tentang tokoh ini dan para pengikutnya, lih. Ramadhani, Menguak Injil-Injil Rahasia, hlm. 43-46.
[4] Richard M. Hogan, Dissents from the Creed: Heresies Past and Present (Huntington, Indiana: Our Sunday Visitor, 2001), hlm. 44.